coretan cerita

Di mana Seruni?

Kala itu sudah menjelang sore, ketika Seruni berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Hari masih cukup terang, karena matahari sebetulnya masih enggan untuk tidur diperaduannya.

Aku tidak begitu mengenal Seruni. Namanya kuketahui setelah setiap hari dia melewati warung kopi yang kujaga ini. Katanya anaknya pintar di sekolah. Mereka, pengunjung warung kopi ini yang bercerita. Tetapi bukan hanya cerita Seruni saja juga tentang keluarganya.

Ya, mereka bercerita tentang keluarga Seruni, mulai dari cerita Seruni lahir hingga dewasa. Seakan tak bosan bak cerita sinetron yang kejar tayang, ceritanya tidak pernah berhenti. Aku sih senang saja, semakin panjang cerita mereka, semakin banyak dagangan warung kopi ini mereka beli.

Cerita Seruni merupakan produksi original dari desa kami. Tapi anak itu kan masih SMA, mengapa begitu banyak yang bercerita tentang dirinya? Suatu saat aku bertanya ketika rasa penasaran itu memuncak, meski pertanyaan itu hanya dalam hati saja.

Lama kelamaan rasa ingin tahu itu hilang. Betul-betul hilang, berganti dengan harapan cerita-cerita baru tentang Seruni. Cerita baru berarti omset warung ini akan bertambah. Hingga suatu ketika orang-orang desa mulai bosan dengan cerita Seruni dan beralih ke cerita lainnya yang menurutku tidak menarik. Ini tidak boleh dibiarkan, gumamku dalam hati.

Hari mulai senja, tapi matahari masih enggan tidur di peraduannya. Aku menusuknya tepat di jantungnya. Dia hanya melihat, berteriak tanpa suara karena mulutnya kudekap. Setelah tubuhnya tidak bergerak, kumasukkan dirinya ke dalam lubang yang telah aku siapkan.

Warung kopi ini ramai sekali. Mereka bercerita tak habis-habisnya. Kali ini dimulai dengan pertanyaan, di mana Seruni?

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.