about life

Indonesia banget gak sih

seberapa Indonesiakah kita. di tengah perdebatan siapa yang berhak menjadi orang Indonesia, seringkali kita lupa apa itu Indonesia.
Tulisan ini saya dapatkan dari tulisan  Harry Nazarudin di mailist Jalansutra. Tulisan yang sangat menggelitik kita sebagai bangsa Indonesia.

[Jalansutra] Pesan dari Belgia untuk Indonesia

Selamat siang men temen semuah!

Tulisan ini menyambung ke tulisan saya dulu tentang jalan-jalan di Belgia. Ada sebuah pesan yang penting yang ingin saya sampaikan ke men temen semuah, rasanya pas untuk merayakan 67 tahun kemerdekaan Indonesia.

Belgia adalah sebuah negara berpenduduk 11 juga orang. Belgia terletak di jantung Eropa Barat, berbatasan dengan Belanda di Utara, Perancis di Selatan, dan Jerman di Timur. Letak Belgia yang sentral inilah yang membuat ibukota Belgia, Brussel, dipilih menjadi ibukota Uni Eropa dan tempat kedudukan Parlemen Eropa. Rekan saya di Belgia, George Alard, berkata dengan bangga: “Dengan kereta cepat TGV (Perancis) saya bisa sampai di Paris dalam waktu 2 jam dan dengan kereta cepat ICE (Jerman) saya bisa sampai di Frankfurt dalam waktu 1 jam!”.

Namun, waktu saya berada disana, Belgia sedang dilanda krisis. Sudah berbulan-bulan negara ini berjalan seperti zombie: tanpa perdana menteri! Pemerintahan berjalan stagnan, tidak ada kebijakan baru, tidak ada pemimpin. Mengapa bisa begitu?

Kedekatan Belgia dengan raksasa Eropa, Belanda, Jerman, dan Perancis, rupanya bagai buah simalakama. Setengah negeri ini berbahasa Flemish, varian dari bahasa Belanda, yakni yang bagian utara sampai pelabuhan Belgia di Antwerp. Sementara di Selatan yang berbatasan dengan Perancis, berbahasa Perancis. Termasuk di Liege, tempat saya berada waktu itu, yang merupakan ibukota negara bagian Waloonia, pusat industri dari Belgia berbahasa Perancis. Sebagian kecil Belgia yang berbatasan dengan Jerman, berbahasa Jerman dengan ibukota di Euven. Georges Alard berasal dari daerah ini. “Semua sekolah dan kantor pemerintah di Euven berbahasa Jerman” katanya. Bahkan, menyebut nama negaranya sendiri pun harus tiga bahasa: Koninkrijk Belgie, Royaume de Belgique, Koenigreich Belgien, plus ekstra untuk turis: The Kingdom of Belgium. Hayyah, ribet!

Semboyannya pun tak kalah ribet. Eendracht maakt macht (Belanda), L’union fait la force (Perancis), Einigkeit macht stark (Jerman). Kalo Gus Dur masih ada, beliau pasti berkomentar: “Bilang aja Bhinneka Tunggal Ika! Gitu aja kok repot!!!” katanya. Wong artinya memang begitu.

Sesudah kenyang menyantap Belgian mussels, kerang ala Belgia yang disajikan dalam pancinya supaya rasanya penuh, rumpsteak Belgia yang mirip Jerman tapi lebih basah dagingnya, dan French Fries (inget cerita Ardennes?) paling enak yang saya pernah makan, kamipun ngobrol tentang politik di Belgia, sambil menyeruput bir Leffe dalam gelas martini (khas Belgia begini), enak bener memang bir Leffe ini.

Belgia, sedang dilanda krisis. Ada kesenjangan sosial antara bagian berbahasa Belanda yang lebih kaya, dengan yang berbahasa Perancis. Kota Liege memang membuat saya terkejut: kok kesannya kumuh dibanding Jerman, padahal ini kan dekat ibukota Eropa? Krisis ini sekarang memuncak. Perpecahan antara yang berbahasa Belanda dengan Perancis makin meruncing. Di Antwerp, rambu jalan berbahasa Perancis dicoret pakai cat semprot. Di Liege, hal yang sama terjadi juga untuk bahasa Belanda. Perpecahan menjalar sampai ke parlemen, sampai pemenang pemilu di daerah Flemish (Belanda) menolak berkoalisi dengan pemenang pemilu di daerah Wallonia (Perancis). Saking lamanya, Belgia memegang rekor negara terlama tanpa pemimpin yakni 23 bulan, mengalahkan rekor Irak yang tanpa pemimpin juga setelah Saddam Husain ditangkap!

Ketika pembicaraan menghangat, suasana jadi sedih. Semua rekan di meja kebetulan berbahasa Perancis.
“Mungkin Belgia akan pecah jadi dua” kata yang satu.
“Ya, kita tidak mungkin bersatu dengan orang Flemish yang sombong itu!” kata yang lain.
“Lalu, bagaimana dengan Raja? Kalian masih punya raja kan?” tanya saya.
“Hmm, menurut saya Raja akan kehilangan kekuasaannya, mungkin dalam beberapa tahun” kata Georges Alard.
“Hah! Menurut saya, bahkan hitungan bulan!” kata temannya.
“Lalu, apakah kalian akan bergabung dengan Perancis?” tanya saya.

Satu orang di meja segera menggeleng. Namanya Jean-Yves, orang Perancis asli. Sejak saya datang dia selalu mendengarkan saya berbahasa Inggris tapi selalu menjawab dalam Perancis dan diterjemahkan. Rupanya, orang Perancis pun tidak mau menerima Belgia berbahasa Perancis yang bukan 100% Perancis! Alamak….

“Bagaimana dengan Indonesia?” tanya Georges Alard.
“Wah, tidak masalah. Kami punya bahasa sendiri!” kata boss saya.
“Apa? Kalian punya bahasa sendiri?”
“Ya! Waktu negara Republik Indonesia berdiri, pemimpin kami memutuskan membuat bahasa sendiri, Bahasa Indonesia. Indonesia adalah satu-satunya negara yang punya bahasa sendiri buatan sendiri pulak!” jawab saya dengan bangga.
“Wow! Hebat. That’s the right way!” katanya, lalu sibuk mengobrol berbahasa Perancis dengan rekan-rekannya, mungking mendiskusikan kemungkinan membuat ‘Bahasa Belgia’.

Men temen, fakta ini benar lho! Kita harus bangga dengan bahasa kita. Indonesia adalah satu-satunya negara yang punya bahasa sendiri. Bahasa Indonesia memang diambil dari bahasa di Kepulauan Riau, tapi sejak tahun 1945, Bahasa Indonesia sudah berkembang sendiri sehingga beda dengan yang di Riau. Dan ketika saya ditanya oleh rekan orang Austria, apakah saya bisa mengenali ‘orang Indonesia’ dari penampilan fisiknya, saya jawab, tidak. Tapi, kalau dia berbicara, saya tahu! Beneran deh, kita harus bangga dengan bahasa Indonesia kita, yang jadi alat pemersatu penting untuk Bangsa Indonesia.

Sayangnya, akhir-akhir ini Bahasa Indonesia diserbu istilah-istilah Inggris sepotong-sepotong, yang hebatnya kok ya dicontohkan oleh presiden kita sendiri. Kita hampir gak bisa ngomong tanpa kata ‘boring’, ‘please dech’, atau ‘thanks’. Seolah-olah selipan kata-kata inggris wajib hukumnya biar terlihat intelek. Padahal coba deh: saya terkejut ketika orang yang rajin nyelipin ‘you know what?’ dan ‘oh my God’ ternyata bungkam ketika harus ngomong Inggris dengan orang Inggris beneran. Ya – kebiasaan nyelip-nyelipin jadi kalau diminta merangkai kalimat lengkap dalam bahasa Inggris tidak bisa! Alamak!

Di hari kemerdekaan ini, yuk kita tinjau kembali bahasa kita. Rasanya semangat ini yang membuat Alm. Capt Gatot selalu menyapa ‘Pagi baik’ walaupun beliau fasih benar berbahasa Inggris. Saya juga mulai mengganti ‘cheers’ jadi ‘salam’ ah, biar ngikutin Capt, hehe. Pengalaman ke Belgia membuat saya sadar, betapa beruntungnya kita punya bahasa sendiri, tapi namanya punya sendiri ya harus dirawat, dikembangkan, dihidupkan. Kalo bukan kita siapa lagi?

Saya jadi ingat belakangan ini banyak melihat kaus nasionalis bertuliskan:
Damn! I love Indonesia!

Kalo Bung Karno melihat tulisan ini, saya yakin dia akan berkomentar:
Bung! Kalau kau cinta Indonesia, mengapa bukan bahasanya yang kau gunakan?

Masak petuah Bung Karno yang diingat cuma ‘Ini dadaku, mana dadamu’ ajah, hehehe

Dirgahayu Indonesiaku! Wow, saya cinta Indonesia!

Salam,

Harnaz

Sent from my iPad

 

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan