fatalis
Blog Sharing

Kenapa Menjadi Fatalis?

fatalis
diambil dari https://oscargriffioen.files.wordpress.com/2012/04/fatalisme.jpg

Menurut kamus besar bahasa Indonesia versi online, fatalis diartikan sebagai seseorang yang menyerah saja kepada nasib.

Nasib ini dianggap merupakan sesuatu hal yang sudah ditentukan. Dalam konsep agama, nasib merupakan suatu jalan yang sudah digariskan oleh Tuhan. Tentu hal ini bisa sejalan dengan pasrah. Anda tentu sering mendengar tentang suatu pernyataan mengenai kepasrahan terhadap nasib. Saya tidak akan memperdebatkan fatalis dalam konsep agama. Tetapi benarkah kita harus berdiam saja terhadap keadaan.

Suatu ketika saya sedang bercengkrama alias cangkruk bersama kawan di sebuah warung kopi di jalan Karang Menjangan Surabaya. Di tempat itu, karena ramai dengan orang maka banyak pengemis juga yang berseliweran di sana. Dan ada seorang anak perempuan yang menggendong seorang anak kecil sedang meminta-minta di warung tempat kami duduk. Rupanya kawan saya mengenali anak itu. Anak itu beberapa tahun yang lalu menjadi anak jalanan yang didampingi oleh kawan saya. Dan hampir 5 tahun kemudian, dia bertemu dengan anak tersebut dan masih dalam kondisi mengemis. Alasannya adalah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan kecuali mengemis.

Sikap inilah yang dianggap fatalis. Bagaimana tidak kemiskinan yang membelenggunya membuat dia bersikap pasrah. Mungkinkah seorang pengemis di jalanan bisa melambungkan hidupnya? Mungkin kita jarang bahkan tidak pernah mendengarnya.
Konsep fatalis juga ada dugaan dengan sengaja dilestarikan bahkan dicekoki kepada orang-orang agar dapat dengan mudah dikendalikan. Ingat, dengan sikap fatalis, maka tidak ada lagi harapan dan ambisi. Semua terkubur dengan apa yang dinamakan nasib.

Pada konsep pemberdayaan, sikap pasrah terhadap nasih ini justru dilawan dan harus dikikis habis. Pemikiran mengenai hakikat manusia yang sama, juga sama-sama memiliki akal dan pikiran mesti dibangkitkan kembali. Tidaklah kita lupa bahwa manusia pada saat dilahirkan mempunyai kesempatan yang sama.

Dalam konsep kebangsaan, kita tidak boleh lagi bersikap fatalis. Misal dengan rendah diri menganggap bangsanya kalah dengan bangsa lain. Padahal semua daya upaya itu didapatkan dengan perjuangan dan kerja keras. Bangsa Indonesia sudah saatnya dibangkitkan. Sikap-sikap pasrah terhadap nasib harus segera dihilangkan. Mari kita berjuang dengan kerja keras, bahwa kita akan mampu melewati semua batasan jika kita mau dengan seluruh daya upaya kita berusaha sekuat tenaga.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan