Media Sosial
about life

Media Sosial Yang Menggelikan

Tadi pagi saya membuka halaman facebook dan menemukan sebuah cerita yang dishare kawan facebook saya yang bercerita mengenai seorang ayah yang menggendong mayat anaknya karena tidak mampu untuk membayar ambulan.

Ceritanya cukup bikin terenyuh, dan seperti biasanya saya mencoba mencari kebenaran dari cerita ini. Ini yang saya dapatkan mengenai kisah ini.

Cerita ini sebetulnya telah terjadi di tahun 2005, berkisah tentang seorang ayah yang tidak mampu untuk membayar ambulan dan menggendong anaknya yang sudah meninggal dari RSCM. Kisah ini dimuat dalam harian Gatra, selengkapnya dapat dibaca di sini. Ada perbedaan versi dengan yang kawan saya share. di dalam harian Gatra, ditulis bahwa sang ayah membawa anaknya dengan bajaj ke rumah tantenya. Sementara yang dishare oleh kawan saya, sang ayah membawa anaknya dengan KRL ke bogor.

whatever perbedaan cerita ini. Intinya memang benar telah terjadi kejadian ini. Potret buram masyarakat miskin Indonesia.

Kisah ini kembali mencuat ketika ada yang menceritakan kembali kejadian ini pada tahun 2011 di era sosial media dan banyak sekali yang mengomentari hal ini. Sampai-sampai direktur RSCM harus mengeluarkan surat klarifikasi mengenai hal ini kepada Kompasiana.

Sekali lagi, bahwa kepedulian orang begitu hebat ketika berita ini tersebar lewat media sosial.

Saya tidak nyinyir kepada media sosial, sama sekali tidak iri. Sebetulnya kejadian ini begitu nyata di kehidupan kita. Cerita sangat serupa bahkan menimpa saudara saya, yang ketika anaknya meninggal disarankan oleh rumah sakit untuk digendong saja mayat anaknya dengan motor.

Belum lagi betapa mirisnya mendengar seorang kawan yang harus keluar masuk rumah sakit agar rumah sakit menerima anaknya yang kritis.

Dan ujung-ujungnya lagi semua berbicara uang. Maka tidak heran, dunia sosial media juga dipenuhi dengan hal yang berbau uang, semisal iklan, broadcast jualan, broadcast bisnis MLM atau apapun yang bisa menjadi uang, menjual diri sendiri misalnya.

Menggelikan memang. Dan sah saja  untuk dilakukan.

Saya sendiri juga tidak pernah membiarkan untuk memblok atau unfollow postingan yang berbau jualan, karena mungkin bisa untuk membaca tren yang terjadi.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.