about life

Mudik sebuah tradisi yang selalu terbarukan

Pada tahun ini, saya tidak  mudik ke kampung halaman. Ada beberapa alasan saya tidak mudik, yang pertama adalah pada bulan lalu saya sudah pulang ke Jember, dan yang kedua agak malas pulang kampung dengan keadaan berdesak-desakan. Tapi itu alasan pribadi saya.

Pada saat ini, mudik bisa dibilang menjadi sebuah tradisi yang hampir dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini, sebut saja Amerika Serikat dengan Thanks Givingnya, atau di China dengan imleknya.

Karena itu, tradisi ini menjadi sebuah komoditas bagi pelaku-pelaku industri. Tengok saja bagaimana pusat perbelanjaan begitu ramai oleh orang-orang yang ingin berbelanja sesuatu yang ingin diperlihatkan pada saat mudik nanti. Di bagian lain, hampir semua stasiun televisi mempunyai tim khusus untuk meliput masa mudik.

Pemerintah juga tidak tinggal diam. Para aparat negara selalu berusaha melakukan evaluasi setiap tahun, agar para pemudik dapat menikmati perjalanan ke kampung halamannya dengan nyaman dan aman.

Apapun kemasannya, tradisi mudik yang hakiki tidak pernah tertinggalkan. Sebagai mahluk sosial yang hidup di akar budaya yang sangat kuat menghormati orang tua dan menjaga tali silaturahmi selalu berusaha untuk menjalankan tradisi mudik ini.

Mudik -> Udik yang artinya kampung, yah kita harus kembali ke kampung. Kembali menjadi orang kampung yang jujur, tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi, mau menolong orang lain.

Semoga para pemudik, mendapatkan makna tersebut di setiap kampung halamannya. dan Ketika kembali ke kota masing-masing, jiwa-jiwa barupun tumbuh dengan semangat yang terbarukan.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.