Berita Logistik Indonesia

Pelabuhan Sapeken Madura Jadi Perlintasan Kapal Perintis dan Distribusi Sembako

Pelabuhan Sapeken Madura Jadi Perlintasan Kapal Perintis dan Distribusi Sembako

disadur dari beritasatu.com

Situbondo- Pelabuhan Sapekan di sekitar Pulau Madura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur akan dilintasi kapal perintis dan kapal pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sembako. Pelabuhan Sapekan yang menjangkau pulau-pulau terpencil di Kawasan Timur Indonesia‎ juga wujud pembangunan infrastruktur daerah terluar dan perbatasan sesuai Nawacita Presiden Joko Widodo.

Sekretariat Jenderal (Sekjen) Kementerian Perhubungan (Kemhub) Sugihardjo‎, mengatakan pembangunan Pelabuhan Sapeken yang berada di antara empat pulau besar, yakni Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali sangat strategis menjangkau pulau sekitarnya. “Kemhub melalui KSOP (Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan) dan Pertamina akan menjadikan Pelabuhan Sapeken untuk distribusi BBM‎, termasuk KM Bahtera Adi Guna akan menggunakan Pelabuhan Sapekan sebagai home base untuk pergerakan ke off shore di lepas pantai,” ujar Sugihardjo, di dermaga Pelabuhan Baru Panarukan, Kamis (26/5).

Menurut dia, ‎nantinya Pelabuhan Sapekan akan dilintasi Kapal Perintis, seperti KM Maumere, KM Sabuk Nusantara ‎27, KM Sabuk Nusantara 56, dan Kapal Miami yang melayani berbagai rute Masalembo, Wakatobi, hingga Bima. Meski Kecamatan Sapeken hanya 2 kilometer persegi yang terdiri dari sembilan desa, namun kecamatan tersebut mempunyai total 53 pulau‎ dimana 21 di antaranya sudah dihuni, sedangkan 32 lainnya belum dihuni, total luas 201,88 kilometer persegi‎.

Di pelabuhan tersebut nantinya juga akan melayani perjalanan terjadwal sehingga membuat masyarakat dan pelaku usaha dapat mengirim pasokan sembako ke daerah-daerah terpencil di lokasi sekitarnya.

Terkait biaya logistik yang masih cukup tinggi, kata dia, dengan konsep tol laut diterjemahkan dua, yakni pembangunan pelabuhan atau peningkatan kapasitas pelabuhan, serta membangun sentra-sentra logistik berikat di wilayah timur Indonesia sehingga mengurangi ongkos logistik.

Ia melihat logistik laut di Indonesia masih mahal karena dua hal, yakni ukuran pelabuhan yang hanya dapat menyandarkan kapal kecil sehingga unit cost-nya mahal. Kedua terjadinya disparitas‎ muatan atau imbalan kargo. “Misalkan kapal saat berangkat bawa 90 persen barang, kembali hanya 10 persen, ini terjadi inefisiensi, padahal dalam transportasi laut, muatan kosong juga dihitung, agar lebih efektif, maka Pusat Logistik Berikat harus dibangun di wilayah Sentral Timur Indonesia‎,” lanjutnya.

Kemhub dikatakan Sugihardjo selama ini sudah bersinergi dengan Kementerian Pertanian untuk mempermudah distribusi bahan pangan nasional seperti sapi dari daerah sentra produksi di Jawa Timur, NTT, dan NTB. “Untuk kapal ternak, dari total 10 voyet, sudah kita layani tujuh, sisa tiga dengan perjalanan dari Bima ke Tanjung Perak. Dalam satu kapal khusus ternak bisa mengangkut 400-500 ekor sapi. Dengan kapal ini maka berat daging total dapat diminimalkan sehingga harga daging sapi tidak lebih dari Rp 85.000,” tandasnya.

sumber: http://www.beritasatu.com/ekonomi/367096-pelabuhan-sapeken-madura-jadi-perlintasan-kapal-perintis-dan-distribusi-sembako.html

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.