about life

Pendidikan Informatika, mau ke mana?

Judul di atas adalah topik e-life style yang ditayangkan pada hari minggu, 19 agustus 2007 di Metro TV. Narasumbernya adalah Frans Thamura si penggagas Java User Group Indonesia dan Bernaridho Hutabarat yang saya ketahui adalah seorang pengajar dan penulis beberapa buku dan seorang pemegang serifikasi dari Oracle, OCP (Oracle Certified Professional) dengan moderator Meutia Hafids yang cantik itu, hehehe.

Judul di atas adalah topik e-life style yang ditayangkan pada hari minggu, 19 agustus 2007 di Metro TV. Narasumbernya adalah Frans Thamura si penggagas Java User Group Indonesia dan Bernaridho Hutabarat yang saya ketahui adalah seorang pengajar dan penulis beberapa buku dan seorang pemegang serifikasi dari Oracle, OCP (Oracle Certified Professional) dengan moderator Meutia Hafids yang cantik itu, hehehe.

Gilanya kedua narasumber sepakat bahwa pendidikan formal informatika adalah tidak mutlak diperlukan. Mereka beralasan, dunia kerja yang ada saat ini, sangat berbeda dengan ilmu yang ada di bangku perkuliahan. Frans Thamura mengungkapkan, bahwa seringkali ia harus mengedukasi ulang seorang lulusan sarjana informatika karena ilmu yang dimiliki belum mumpuni untuk menghadapi dunia kerja. Dalam istilah Frans, gaji anak lulusan S1 informatika terlalu tinggi dibandingkan skill yang dimiliki.

Senada dengan Frans, Bapak Bernaridho juga tidak menampik, bahwa ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan tidaklah sebanding dengan praktek di dunia kerja. Ia mengatakan bahwa dalam perkuliahan terlalu banyak materi perkuliahan yang tidak menyinggung langsung dengan prakteknya.

Pada kesempatan itu juga, ada penelepon yang mengatakan ketidaksetujuan dengan wacana bahwa pendidikan formal informatika tidak berguna. Penelepon tersebut menceritakan dirinya adalah lulusan SMK Telkom Jakarta, dan sempat bekerja di PT. TELKOM selama setahun di bagian Internet dan saat ini melanjutkan studinya di BINUS. Dia mengatakan bahwa, banyak sekali ilmu yang berguna ketika dia lulus dari SMK TELKOM untuk mengembangkan dirinya ketika dia bekerja di PT TELKOM.

Hal ini ditanggapi oleh Bernaridho yang ternyata juga pernah mengajar di SMK TELKOM selama enam tahun. Ia mengatakan pengajaran di SMK TELKOM berbeda, sebab di sana lebih banyak prakteknya dan support dari PT TELKOM sangat besar. Hal ini berbeda dengan pendidikan lain yang sangat jarang mendapatkan support yang besar dari perusahaan. Wah jadi teringat dengan Politeknik DELL yang di support oleh perusahaan komputer DELL di Pematang Siantar, hehehe. Kampusnya asyik ada di pinggir danau.

Penelepon lain adalah seorang pemilik perusahaan software yang banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Dia mengatakan bahwa banyak sekali kejadian di mana pekerjanya yang notabene adalah lulusan sarjana informatika, tidak mampu menghadapi permasalahan di dunia kerja.

Frans Thamura menanggapi bahwa cukup ambil kursus selama sebulan, mereka akan bisa secara praktis.

Frans saat ini sedang mengerjakan proyek bersama Diknas untuk membuat kurikulum yang praktis yang sesuai dengan dunia kerja.

Kalau dilihat dari pembicaraan ini, rupanya pendidikan vokasional (yahh kayak kursus-an lahhh) menjadi naik daun ya saat ini. Tapi masalahnya perusahaan tetap mensyaratkan pendidikan Sarjana Informatika sebagai syarat untuk melamar di industri informatika.

Kalau saya sih tidak sepakat kalau pendidikan informatika itu tidak berguna. Saya baru merasakan betapa bergunanya ilmu yang saya dapatkan dulu ketika saat ini saya mengambil kuliah S2 di Manajemen Teknologi Informasi di ITS Surabaya. Beberapa mata kuliah memberikan saya pencerahan bagi saya untuk bekerja lebih efisien. Ilmu tersebut memang semakin lebih dalam diajarkan berbeda dengan dulu. Tapi kalau dulu, mungkin lebih semangat menjadi programmer, kadang kala menjadi buta dengan yang namanya teknik ataupun metode yang sebetulnya sudah diajarkan di bangku kuliah, tapi karena semangat, lebih gaya kalau jadi programmer, hehehe , itulah saya akhirnya belajar (ini secara otodidak ) bahasa pemrograman. Kalau ini yang dimaksudkan oleh Frans bahwa kita bisa belajar otodidak, saya sepakat dengan hal ini. Tapi di sisi lain, saya merasa bahwa ilmu yang paling mendasar yang peroleh manfaatnya sampai saat ini adalah kuliah Algoritma Pemrograman di STIKOM Surabaya dulu. Ini adalah kuliah bagaimana memahami alur berpikir. Saya harus banyak berterima kasih kepada Bapak Yuswanto yang telah mengajar mata kuliah tersebut. Sebab hasil dari mata kuliah tersebut, saya dapat dengan mudah mempelajari bahasa pemrograman apapun, bahkan yang belum pernah saya ketahui sekalipun.

Nah disinilah yang ingin saya katakan, bahwa pendidikan informatika secara formal menjadi sangatlah penting.

Ada joke yang sangat menarik, kebanyakan orang IT di Indonesia ini dianggap “SUPERMAN”, yang berarti lulusan IT harus bisa :

1. Install Windows
2. install aplikasi
3. bikin program
4. design database
5. admin database
6. design bisnis proses
7. betulin hardware
8. design jaringan
9. admin jaringan
10. design web
11. admin web
12. dll yang ada hubungannya dengan computer ….

Wahaha, gajinya berapa tuh????

Menurut saya ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang ahli informatika (standar kompetensi ini sebetulnya sudah ada yang mencoba menggagasnya):
kemampuan bahasa pemrograman, apapun lah.
Kemampuan menguasai sistem operasi , gak peduli WINDOW$ ato LINUX.
Kemampuan dalam penguasaan manajemen data.
Pemahaman dalam penguasaan jaringan komputer.
Cukup empat itu saja, udah cukup hebring, tapi kalo mo spesialis ya… dalami saja salah satu kompetensi di atas, kompetensi lainnya cukup dalam pemahaman saja.

 

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

One thought on “Pendidikan Informatika, mau ke mana?”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.