Sharing

Back To 1998

Back To 1998
foto dari detik.com

Angka 1998 seakan mengingatkan kejadian masa lalu itu. Hampir dua puluh tahun. Saat itu aku masih belajar sebagai mahasiswa Sosiologi semester dua di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Melihat aksi, dan terkadang ikut-ikutan aksi yang diadakan di organisasi mahasiswa kampus sering dilakukan. Cuma memang, pada tahun 1998 saya masih belum begitu aktif di organisasi. Sejujurnya ikut demo hanya ikut-ikutan, tak ada sama sekali berpikir kritis. Cuma bekal gaya sebagai “agent of change” yang pada saat itupun gak terlalu paham aku, apa maksudnya.

Namun, eskalasi suasana politik yang memanas, ditambah dengan intensitas demo semakin memuncak. Yang aku tahu pada saat itu adalah harga-harga pada naik. Beli makan di warung banyak pedagang yang mengeluh karena beras terus naik, bahkan langka. Ditambah lagi adalah tekanan terhadap nilai mata uang rupiah.

Yang aku saksikan pada berita di TV adalah banyak yang menukar dolarnya, menyumbangkan emasnya untuk negara. Dimana-mana banyak pasar sembako murah. Bahkan di kampusku pun dibagi kupon seharga 2,500 untuk makan yang aku tolak karena aku masih mampu untuk beli makan sendiri tanpa dengan kupon itu.

Dan terjadilah penembakan mahasiswa di Trisakti. Puncaknya adalah pendudukan gedung DPR oleh mahasiswa, kemudian kerusuhan di sana sini. Aksi penjarahan hingga isu pemerkosaan. Dan akhirnya presiden Soeharto yang baru dilantik setahun kurang itu mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada Soeharto Habibie.

Di manakah saya? Sejujurnya di tahun 1998 pada saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, saya sedang tidur kawan. Yups, benar saya sedang tidur. Saya cuma mahasiswa baru dari luar kota yang culun, yang “mbelani” datang pagi-pagi ke TP sebelum mall itu buka hanya untuk melihat mall.

Oleh sebab itu, sama sekali saya tidakkan pernah mengaku saya ini elemen 1998 yang ikutan demo. Walau memang sih banyak yang sok-sokan mengaku mereka ikutan aksi 1998. Lah masuk kuliahnya aja tahun 1999-2000-an, kapan ikutan aksinya ya? Ya sudahlah.
Sekali lagi, saya bukan saksi sejarah. Saya cuma pengen flashback aja. Mengenang kemalasan kuliahku di masa lalu.

Dan inilah yang aku lihat kembali ketika ada aksi pada tanggal 21 – 22 mei 2019. Ingatan itu kembali kepada Artha yang masih semester dua di Sosiologi Unair. Yang hanya tahu bapak Sosiologi adalah Antonio Gramsci. Tapi sama sekali tidak pernah tahu apa pemikiran beliau.

Avatar
Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.