about life

DO-ers

image

Saya tergelitik dengan artikel kompas di rubrik karier pada hari sabtu, 23 maret 2013 hari ini.
rubrik ini dikelola oleh Experd dan isi artikelnya tentang Behaviour Intelligence. di Artikel tersebut dituliskan bagaimana menjadi pribadi yang serba bisa.

Akan tetapi, saya tertarik dengan istilah DO-ers.
DO-ers adalah isitilah untuk pekerja lapangan yang bersentuhan langsung dengan pekerjaan itu. Akan tetapi saat ini wacana itu sudah berubah, seorang atasan juga harus menjadi DO-ers. Coba tengok Dahlan Iskan, Joko Widodo dengan blusukannya, erat sekali dengan istilah ini.
Mereka bukanlah pejabat yang duduk di balik meja dan tinggal menunggu laporan bawahannya. Joko Widodo berbasah dengan banjir untuk mengetahui secara langsung penyebab banjir.
Saya juga punya seorang kawan yang bekerja sebagai site manager di sebuah perusahaan logistik. Ranah tanggung jawabnya menurut saya sangat luas, dari sisi warehousing dan transportation. Beliau berkarir benar-benar dari bawah, yaitu dari picker (pengambil/pengumpul barang yang akan diloading)
Begitu detailnya beliau sampai, ada hal kecil yang terjadi di ranah tanggung jawabnya beliau bisa tahu.

Baru-baru ini seorang tim saya resign dari pekerjaannya. tanggung jawabnya adalah sebagai seorang application support dan menjawab tiket yang dibuat melalui helpdesk system.
Sayangnya, kalau diukur dari kinerja penyelesaian tiket sangat buruk, bahkan ada tiket sampai 11 hari tidak direspon. Akibatnya, sebagai seorang IT Manager yang bertanggung jawab di ranah ini, saya pun mendapat kritikan masalah ini.
Saya sendiri tidak mendapat feedback kenapa sampai direspon terlalu lama.
Akhirnya, sekeluarnya orang ini, saya mencoba menjawab tiket-tiket tersebut dengan memetakan permasalahannya.
Alhasil dalam tempo 3 hari ini, tidak ada lagi tiket yang direspon terlalu lama.
sampai hari, still me fight alone as single fighter, and all done.
Sembari mencari tim baru, saya terus bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya formula agar apa yang saya lakukan bisa mereka lakukan juga.

secara manajerial, saya pernah melakukan hal ini, mengkategorikan sumber daya saya sebagai manusia atau robot.
Jika mereka manusia, mereka tinggal saya deskripsikan apa yang menjadi job desc mereka dan responsibilitinya, termasuk kapan mereka harus report.
Jika mereka robot, mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan, karena itu tidak tahu harus mulai dari mana. Karena itu, saya akan siapkan langkah-langkah yang harus dikerjakan, bentuk laporan, reminder kalau laporan harus disubmit. Yah capek memang punya robot, apalagi manual sepert ini. Tapi, namanya robot cerdas, lama-lama juga bisa menyelesaikan pola ini.
Saya selalu mendorong tim untuk menjadi manusia demi karir mereka.

Sebagai Do-ers, tentu ada keterbatasan diri saya, ruang dan waktu tentunya. Sebagai seorang manajer, akan kehabisan energi jika harus terus menerus menjadi do-ers dan terlibat kompleksitasnya dan menjadi rutinitas, akhirnya tidak pernah memikirkan strategi.

Selain itu, behaviour di sini menjadi tantangan yang sangat luar biasa yang saya rasakan dari dahulu. Banyak dari orang berpikir bahwa yang membutuhkan adalah perusahaan dan perusahaan yang harus mengikuti mereka. Padahal ketika join pertama kali, dengan sadar bahwa rumah yang mereka masuki memiliki visi dan misi yang terlebih dahulu ada.
Menurut saya, jika sudah tidak cocok dengan budaya organisasi lebih gentlemant untuk keluar daripada menjadi perusak.

so, ayo kita pikirikan, dan jadikan kita Do-ers.

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.