e-commerce retail mixing
pemberdayaan

E-Commerce Retail Mixing

e-commerce retail mixing
Ilustrasi dari http://16115-presscdn-0-48.pagely.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2016/02/online-retail-ecommerce.jpg

Yups, saya tidak kesulitan untuk mendefinisikan apa yang akan saya paparkan di sini, maka saya akan menyebutnya sebagai e-commerce retail mixing. Sebuah konsep bisnis pencampuran, lahir dari adaptasi terhadap kebutuhan bisnis, keinginan untuk meraup potensi pasar yang lebih luas.

Apa itu e-commerce retail mixing?

Dunia ke depan katanya adalah era e-commerce. Maka berlomba-lombalah orang untuk menyiapkan sebuah pondasi e-commerce, lengkap dengan keseluruhan strategi bisnis masa mendatang. Setelah era keberhasilan beberapa e-commerce di Amerika seperti Amazon dan Alibaba di China, kita semua percaya bahwa kebutuhan orang yang diiringi dengan gaya kehidupan sekarang mendukung sebuah pola perdagangan yang disebut e-commerce. Belum lagi kemajuan teknologi informasi seperti infrastruktur internet, serta kemajuan teknologi pemrograman yang saya yakini dan alami membuat jauh lebih mudah bagi programmer dibanding pada masa-masa sepuluh tahun yang lalu.

Ternyata e-commerce belumlah cukup

oya? padahal e-commerce sudah memberikan kemudahan bagi konsumen dalam bertransaksi. Selain itu, bagi penyelenggara e-commerce juga memberikan tingkat efisiensi dan efektifitas yang tinggi dari sisi logistics cost dan operasionalnya. Tapi nyatanya peretail offline masih berjaya hingga kini. Percayalah, porsi kue angka penjualan tertinggi masih ada pada offline store. Dan angka ini, tentu saja menggiurkan bagi pelaku e-commerce.

Saatnya Mixing

Dengan keyakinan akan ceruk pasar yang masih tinggi di sisi offline, maka pelaku e-commerce membuat konsep baru untuk juga masuk ke penjualan offline. Seperti misalnya Amazon yang memulai membuka toko buku fisik dan toko grocery secara offline. Bahkan Alibaba juga merangsek masuk ke bisnis offline. di Indonesia anda bisa mengunjungi salah satu pop-up store milik Berrybenka di Sumarecon Mall Serpong. Inilah saat melakukan mixing. Saatnya tidak lagi melihat dan mendikotomikan antara bisnis secara online dan offline. Strategi ini tidak hanya membuat pebisnis e-commerce berdiam di satu sisi saja menjadi online pure play.

di sisi lain, pebisnes retail offline juga berusaha masuk ke bisnis online. Tengok saja Matahari Departement Store yang masuk ke penjualan online melalui salah satu e-commerce yang juga dimilikinya, yaitu mataharimall. Namun yang perlu diberikan keyakinan kepada pebisnis retail offline, mengingat angka statistik memang mengatakan bahwa angka penjualan memang berada di porsi yang paling besar di penjualan secara offline, tetapi hal ini diharapkan tidak memandang sebelah mata terhadap platform e-commerce yang dimilikinya dengan menganggap platform e-commerce tersebut hanya sebuah bagian dari trend semata. Tetapi peluang mendapatkan market share yang lebih luas juga bisa diraih melalui penetrasi e-commerce.

Jadi intinya, mari kita melakukan mixing.

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.