Berita Logistik Indonesia

EFISIENSI BISNIS: Ongkos Logistik Jatim Menjadi Pertimbangan

EFISIENSI BISNIS: Ongkos Logistik Jatim Menjadi Pertimbangan

Disadur dari Bisnis.com, SURABAYA—Biaya logistik yang mahal terus jadi penghambat setia geliat bisnis di Jawa Timur selain persoalan upah pekerja.

Bisa jadi seorang presiden direktur mendapatkan lokasi yang pas dari sisi upah tenaga kerja, tetapi dia tidak memeroleh tempat yang strategis. Tanpa lokasi yang strategis, setidaknya dekat dengan tol, maka biaya logistik dikhawatirkan membengkak. Alhasil akhirnya pebisnis bersangkutan batal investasi.

“Kami tidak jadi masuk ke Ngawi, Jawa Timur karena tidak mendapatkan tempat yang strategis secara transportasi,” ujar Presiden Direktur Grup Maspion Alim Markus kepada Bisnis, di Surabaya, Jumat (20/5/2016).

Grup Maspion tengah memikirkan perluasan pabrik di wilayah Jawa Timur, Ngawi sempat menjadi opsi. Tapi kenyataannya kabupaten ini batal dipilih lantaran tidak bisa mendapat lokasi yang dekat tol. Tempat yang dibidik Maspion harus mengorbankan sawah sehingga ditolak pemda.

Apa yang dialami Maspion hanya contoh kasus. Tampaknya banyak perusahaan-perusahaan di bidang manufaktur lainnya yang merasakan hal serupa, yakni sukar membidik lokasi baru yang strategis. Tempat yang strategis menjadi modal untuk menekan ongkos logistik.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim Benny Siswanto menyatakan biaya transportasi sebagai komponen logistik yang porsinya terbesar dalam distribusi barang. Hal ini dikemukakan dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Jatim yang dipublikasikan Bank Indonesia.

Di sisi pembelian, biaya transportasi mencapai 46% – 63% sedangkan pada sisi penjualan 54% – 64%. Pembelian adalah distribusi dari produsen ke pedagang, penjualan arus dari pedagang ke konsumen.

Saat ini moda transportasi yang paling sering digunakan dalam rantai logistik di jatim adalah transportasi darat. Porsi sarana transportasi ini mencapai 43,8% terhadap total moda transportasi. Selebihnya ada angkutan udara 40,45%, angkutan laut 12,89%, sungai 1,55%, dan kereta api 1,31%.

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Jatim menyebutkan moda angkutan darat yang kerap dipakai adalah truk.“Truk atau mobil boks mencapai 91,4% dari total responden dalam survei Perdagangan Antar Wilayah,” ujar Benny.

Selain truk dan mobil boks tentu digunakan pula kapal laut 4,77%, pesawat udara 2,51%, dan kereta api hanya 1,31%. Tingginya penggunaan angkutan darat berupa truk tampak dari tingginya volume truk yang melintas di Pantura Jawa.

sumber: http://surabaya.bisnis.com/read/20160523/9/88955/efisiensi-bisnis-ongkos-logistik-jatim-menjadi-pertimbangan

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.