about life

Husni Mubarak, Mesir…. what next….

Setelah diguncang oleh aksi unjuk rasa rakyat Mesir yang menuntut presiden Husni Mubarak untuk mundur, akhirnya Husni Mubarak menyerahkan tampuk pimpinannya.
Seperti memutar film lama, jika kita menoleh aksi yang sama pada tahun 1998 di Indonesia. Rezim yang terlalu lama berkuasa, kemuakan rakyat atas ketidakadilan ditambah lagi krisis ekonomi yang tidak dapat diselesaikan.
Ternyata wacana ini oleh beberapa orang coba diungkap kembali dengan mengancam kepada pemerintah Indonesia akan menjadikan Indonesia menjadi Mesir, sungguh saat naif.
Kita memang lihat, saat ini dengan berbagai problem kenegaraan Indonesia yang berada di gelombang demokrasi, seakan-akan pemerintah menjadi sasaran tembak yang empuk. Padahal, problem kenegaraan bukan secara an sich menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga negaranya.
Aparatur negara hanya menjadi alat bantu, sementara penggeraknya adalah warga negara Indonesia.
Berbagai persoalan bangsa saat ini sebenarnya seperti kaset lama yang diputar kembali, hanya saja saat orde baru kita berada dalam ketidakberdayaan untuk mengungkapkan berbagai persoalan itu. Dan tibalah era keterbukaan itu, semua masalah itu mengalir deras dan ditujukan kepada rezim yang berkuasa.
Padahal, kalau kita meniru rezim Soeharto, jelas, semua masalah negara harus diselesaikan dengan strategi, first think first. Mana yang harus diselesaikan dulu. Tidak mungkin menyelesaikan masalah dengan memandang secara parsial, harus dipandang secara holistik, dengan strategi jangka pendek dan jangka panjang.
Yang sering membuat kecewa adalah ulah wakil rakyat yang sok membela rakyat, tetapi nyata-nyata mereka duduk di kursi DPR hanya untuk cari nama setelah itu kebut kejar setoran untuk mengembalikan semua dana yang mereka keluarkan ketika mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.
Sungguh ironi, seringkali rakyat hanya dipertontonkan anggota dewan yang sok kritis kepada pemerintah, tetapi sebenarnya hanya membawa agenda tersembunyi saja.
Untung saya tidak pernah punya niat untuk ikut pemilu, karena pada akhirnya yang saya pilih hanya sampah, garbage in garbage out.
Kembali ke Mesir, jelas fenomenanya berbeda jika kita bandingkan dengan kondisi sekarang. Indonesia saat ini lebih demokratis, tetapi jika ada masalahpun tidak lain hanya ulah segelintir orang yang butuh ketenaran saja.
Tentu bukan bermaksud membela BeYe, wong saya gak milih beliau koq, tetapi coba belajar jangan jadi orang yang reaksioner udah gitu masih arogan pula. Coba berpikir jernih, Indonesia itu negara kaya dan strategis. Pikirkan Indonesia itu harus bisa dinikmati oleh anak cucu kita dengan merdeka, artinya jangan sampai dicaplok bangsa lain. Pikirkan juga, umur Indonesia masih panjang, jangan mikir perutmu sendiri.
Untuk profesional, tetap berkarya guys, gak usah pikirkan masalah Gayus, untuk aparat pemerintah, mbok sadar dikit, gajimu itu yang mbayarin rakyat Indonesia jadi mengabdi dikit knapa!!!!
Untuk anggota dewan yang terhormat, no comment deh, anda bisa memilih kok mau masuk surga atau neraka, up to you lah….

just blogging with my berry.

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.