Manajemen Risiko Pada Industri Logistik
Logistics Manajemen

Manajemen Risiko Pada Industri Logistik

Manajemen Risiko Pada Industri Logistik
Gambar oleh Wokandapix dari Pixabay

Pada setiap industri, hampir dipastikan sebuah risiko akan muncul dan harus dihadapi. Begitu juga dalam industri logistik. Namun yang terpenting adalah kemampuan dalam melakukan manajemen risiko.

Kali ini saya akan mengulas tentang manajemen risiko pada industri logistik. Karena dunia logistik ini terlalu luas, saya akan membaginya dalam beberapa tulisan. Yang pertama, saya akan membahas mengenai apa itu risiko, bentuk-bentuk risiko dan selanjutnya kita akan mengenal mengenai manajemen risiko. Tulisan kedua, saya akan mengulas risiko pada transportasi termasuk mengenai manajemen risiko yang dilakukan pada transportasi. Tulisan ketiga adalah mengenai risiko di warehouse beserta manajemen risiko yang harus dilakukan.

Sebelum menginjak lebih jauh, saya ingin mendefinisikan terlebih dahulu apa itu risiko.

Pengertian Risiko

Ada beberapa definisi risiko yang bisa dijabarkan. Yang pertama, risiko adalah sebuah ketidakpastian tentang suatu peristiwa masa depan atas hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan. Definisi ini disampaikan oleh Griffin (2002:715). Sedangkan Hanafi (2006:1) memberikan definisi bahwa risiko adalah suatu bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.

Vaughan (1978) mengungkapkan ada lima hal yang disebut dengan risiko. Yang pertama adalah risk the chance of loss (risiko adalah sebuah kans terjadinya kerugian), hal ini berkaitan dengan suatu kemungkinan terhadap kerugian. Yang kedua adalah risk the possibility of loss (risiko adalah kemungkinan terjadinya kerugian), artinya sebuah risiko mempunyai peluang terhadap terjadinya kerugian. Hal yang ketiga adalah risk is uncertainty (risiko adalah sebuah ketidakpastian). Selanjutnya hal yang keempat adalah risk is the dispersion of actual from expected results (risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan). dan yang terakhir adalah risk is the probability of any outcome different from the one expected (risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan)

Jenis Risiko

Ada beberapa jenis risiko. Pada tulisan ini saya akan sampaikan beberapa jenis risiko yang dijelaskan oleh para ahli. Yang pertama adalah dua jenis risiko yang disampaikan oleh Hanafi (2006:6), yaitu:

  1. Risiko Murni (Pure Risk)
    Risiko murni adalah ketidapastian terhadap terjadinya kerugian. Risiko murni ini jika terjadi akan menimbulkan kerugian, namun tidak sebaliknya yaitu jika risiko tidak terjadi maka tidak akan menimbulkan kerugian namun juga tidak menimbulkan keuntungan. Akibat dari risiko murni ini ada dua yaitu rugi atau impas, misalnya pencurian, kecelakaan, atau kebakaran.
  2. Risiko Spekulasi (Speculative Risk)
    Risiko kedua yang disampaikan oleh Hanafi adalah risiko spekulasi. Risiko spekulasi merupakan risiko yang berkaitan dengan terjadinya dua kemungkinan yang terjadi, yaitu kerugian ataupun keuntungan secara finansial. Akibat dari risiko spekulasi ini ada tiga macam yaitu rugi, untung atau impas. Contohnya adalah investasi saham di bursa efek, membeli undian dan sebagainya.

Ahli lain, Jorion (1997) mengungkapkan ada tiga jenis risiko, antara lain:

  1. Risiko Bisnis (Busines Risk)
    Risiko bisnis adalah risiko yang dihadapi oleh perusahaan terhadap kualitas dan keunggulan produk. Risiko ini hadir karena ketidakpastian dari aktifitas bisnis seperti kemajuan teknologi, desain produk dan pemasaran.
  2. Risiko Strategi (Strategic Risk)
    Risiko strategi muncul disebabkan oleh terjadinya perubahan fundamental pada lingkungan ekonomi atau politik. Risiko ini sulit untuk dilakukan perhitungan karena berhubungan dengan diluar organisasi perusahaan. Contoh dari risiko strategi ini adalah perubahan pada kebijakan pemerintah, iklim politik dan lain-lain.
  3. Risiko Keuangan (Financial Risk)
    Risiko keuangan adalah risiko yang timbul karena pergerakan pasar finansial yang tidak diperkirakan. Misalnya kerugian yang ditimbulkan karena pergerakan tingkat suku bunga.

Pendapat lain mengungkapkan bahwa risiko dapat diklasifikasi menjadi empat jenis jika dilihat berdasarkan adanya kecenderungan untuk terjadinya risiko (likehood) serta konsekuensi yang diakibatkan. Keempat klasifikasi risiko ini antara lain:

  1. Uncceptable Risk
    Uncceptable risk adalah suatu risiko yang tidak dapat diterima dan harus dihilangkan.
  2. Undesirable Risk
    Undesirable risk adalah risiko yang memerlukan penangangan, sampai risiko tersebut sampai pada tingkat yang dapat diterima.
  3. Acceptable Risk
    Acceptable risk adalah risiko yang dapat diterima karena tidak mempunyai dampak yang besar.
  4. Negligible Risk
    Negligible risk adalah risiko yang dampaknya kecil, sehingga dapat diabaikan.

Sumber Risiko

Godfrey (1996) mencatat setidaknya ada dua belas sumber risiko yang perlu diketahui dan diidentifikasi sebagai langkah awal penanganan risiko, yaitu:

  1. Politik (political)
    Sumber risiko dari politik misalnya kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, opini publik, perubahan ideologi, perubahan peraturan, terjadi kekacauan (perang, terorisme, kerusuhan)
  2. Lingkungan (Environmental)
    Sumber risiko yang berasal dari lingkungan misalnya terjadinya pencematan, kebisingan, perijinan, perubahan perundangan yang berkaitan dengan lingkungan, dampak lingkungan.
  3. Perencanaan (Planning)
    Sumber risiko yang bersumber dari perencanaan antara lain persyaratan perijinan, kebijakan dan praktik, tata guna lahan, dampak sosial dan ekonomi.
  4. Pemasaran (Market)
    Sumber risiko yang berasal dari pemasaran misalnya perkiraan permintaan, persaingan, keusangan, kepuasan pelanggan.
  5. Ekonomi (Economic)
    Risiko yang bisa timbul dari ekonomi misalnya perubahan kebijakan yang berkaitan engan keuangan, perpajakan, inflasi, suku bunga dan nulai tukar.
  6. Keuangan (Financial)
    Risiko yang bisa ditimbulkan dari kondisi keuangan antara lain terjadinya kebangkrutan, perubahan peraturan perpajakan, inflasi, suku bunga ataupun perubahan nilai tukar.
  7. Alami (Natutal)
    Risiko yang ditimbulkan oleh kondisi alam antara lain, perubahan kondisi tanah di luar dugaan, cuaca, gempa, kebakaran, temuan situs arkeologi.
  8. Proyek (Project)
    Risiko yang ditimbulkan pada suatu proyek misalnya, strategi pengadaan, persyaratan untuk kerja, kepemimpinan, perencanaan dan pengendalian kualitas, rencana kerja, tenaga kerja dan sumber daya, komunikasi dan budaya.
  9. Teknis (Technic)
    Risiko yang bisa timbul pada faktor teknis misalnya kelengkapan desain, efisiensi, operasional, keandalan.
  10. Manusia (Human)
    Risiko yang ditimbulkan karena faktor manusia misalnya kesalahan, tidak kompeten, kelalaian, kelelahan, kemampuan berkomunikasi, budaya, bekerja dalama kondisi gelap atau malam hari.
  11. Kriminal (Crime)
    Risiko yang ditimbulkan karena faktor kriminal antara lain, adanya rasa kurang aman, terjadi perusakan, pencurian, penipuan, korupsi.
  12. Keselamatan (Safety)
    Risiko yang ditimbulkan karena faktor keselamatan antara lain peraturan (kesehatan dan keselamatan kerja), zat berbahaya, bertabrakan, keruntuhan, kebanjiran, kebakaran, dan ledakan.

Risiko Yang Terjadi Pada Industri Logistik

Dunia kita saat ini, timbul berbagai konflik yang terjadi di berbagai tempat. Selain itu juga ada krisis ekonomi yang melanda di berbagai belahan dunia, serta terjadinya terorisme yang tentunya dapat menimbulkan risiko. Hal ini juga membawa dampak kepada industri logistik di Indonesia. Untuk menghadapi risiko yang akan terjadi, maka diperlukan strategi yang matang dan jelas.

Risiko yang dihadapi pada industri logistik misalnya adalah ketidakstabilan pasar serta tingginya risiko terjadinya kriminalitas pada transportasi. Hal tersebut dapat menimbulkan potensi kerugian pada perusahaan. Potensi timbulnya risiko ini harus bisa diatasi dengan melakukan manajemen risiko agar dampak yang ditimbulkan jika risiko tersebut terjadi dapat di perkecil bahkan mungkin dihindari.

Beberapa contoh risiko yang terjadi pada industri logistik antara lain:

  1. Keterlambatan
  2. Pencurian
  3. Pembajakan
  4. Kurangnya penerapan prosedur keamanan
  5. Vendor transportasi yang bangkrut
  6. Ketidaktersediaan inventory
  7. Regulasi baru yang mempengaruhi indusri logistik

Untuk melakukan manajemen risiko, maka yang harus dilakukan pertama kalia adalah mengidentifikasi risiko yang terkait dengan logistik. Kemudian lakukan penilaian terhadap risiko tersebut dan selanjutnya memilih metode apa yang akan dipakai untuk menghadapi risiko yang muncul. Selain itu juga diperlukan skenario ketika menghadapi risiko muncul.

Beberapa hal yang harus dilakukan pada penerapan manajemen risiko antara lain:

  1. Melakukan pemetaan terhadap mata rantai pasok
  2. Melakukan evaluasi terhadap risiko, ancaman serta proses melakukan penyelematan jika risiko terjadi.
  3. Melakukan uji kelayakan
  4. Melakukan desain terhadap prosdur keamanan
  5. Manajemen krisis
  6. Monitoring dan tracking

Referensi

  • Jorion, P. 1997. Value at Risk. Chicago: Irvine.
  • Griffin, R.W. 2002. Management jilid 1. Jakarta: Erlangga.
  • Hanafi, Mamduh. 2006. Manajemen Resiko. Yogyakarta: YKPN. 
  • Vaughan, E.J dan Curtis M. Elliot. 1978. Fundamentals of Risk and Insurance. Toronto: John Wiley & Sons Inc.
  • Godfrey, Patrick S., Sir William Halcrow and Partners Ltd. 1996. Control of Risk: A Guide to the Systematic Management of Risk from Construction. London: CIRIA.
Avatar
Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.