about life

Pipa PDAM pecah lagi

Sial…

Minggu pagi kemarin, aku yang sedang tertidur pulas di ruang komputer dibangunkan sama tere. Dia bilang airnya mati. Seketika itu juga aku bangun dan coba melihat di tandon air, ternyata emang benar, air di tandon udah habis. Aku coba lihat tetangga, ternyata dia malah asyik nyuci mobil. Haahhh!!! Masak sih di rumahku aja yang airnya mati.

Ehhh, gak berapa lama di tengah-tengah waktu nyuci mobil tiba-tiba airnya mati dan dia istrinya teriak, “Pa, airnya habis!!!”, ealah ternyata dia gak sadar kalo air mati dan dengan tenang nyuci mobil tarunanya. Setelah nelpon ke pos Security perumahan, ternyata emang bener air PDAM mari karena pipanya pecah di jalan raya Porong.

Waktu itu di rumah ada Andre, kakak Tere; Keke, adik tere; aku dan Tere. Pagi itu Andre udah mandi duluan. Akhirnya kami Cuma bisa cuci muka seadanya dan sikat gigi pake air Aqua, trus cabut ke wisma daerah Jember di Gayungsari buat mandi di sana.

Ini yang sudah ke – 38 kali pipa PDAM yang ada di jalan raya Porong pecah lagi dan lagi. Padahal secara biaya air PDAM yang baru jumat kemaren aku dapat edarannya kalo akan naik di bulan Februari. Dan belum enam bulan semenjak terakhir bulan agustus 2007 sudah naik. Trus gimana dong nasib kami para pelanggan yang setia. Sebab gak ada solusi lagi selain berlangganan air PDAM. Air tanah di daerah Sidoarjo ini agak payau, jadi berasa asin kalo dipake.

Menurut Humas PDAM Sidoarjo, pipa yang melalui jalan raya porong, pecah akibat pergeseran tanah (duh Gusti, another impact of Porong disaster again!!!). dan pipa tersebut milik PDAM Surabaya [ Kompas Jatim, Senin 21 Januari 2007 ]. So tanggung jawab perbaikan pipa berada di bawah kewenangan PDAM Surabaya.

Padahal, kami para pelanggan ini harus membeli air yang berharga setengah dari biaya bulanan berlangganan PDAM itu sendiri, kata seorang pelanggan di koran itu juga.

Emang sih, air yang dijual di perumahanku berkisar Rp. 18.000 – Rp. 40.000. itu sangat tergantung dari lamanya air PDAM mati. Bahkan pernah empat hari air PDAM mati, dan air yang dijual pun sekitar Rp. 40.000 per tandon yang hanya cukup untuk sehari aja [ asumsi pemakaian hanya untuk mandi secukupnya untuk dua orang kayak di rumahku ]. lah itu kan udah hampir 3/4 dari biaya berlangganan sebulannya yang rata-rata kalo di rumahku sekitar 50 – 60 ribu.

Trus, sebagai perusahaan publik, bisa gak kita menuntut tanggung jawab PDAM yang telah gagal melayani pelanggannya???

Akhirnya di kamar mandi wisma daerah Jember di Gayungsari yang ternyata kehabisan air juga, aku Cuma bisa termenung sembari berdoa, “Ya Tuhan, semoga cawan lumpur Lapindo ini segera berlalu dari kami”

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.