teori z
Manajemen

Teori Z

teori z
Gambar oleh rawpixel dari Pixabay

Hermawan Kertajaya, menceritakan pertemuan pertamanya dengan pak Ci (Ciputra). HK menunjukkan kekagumannya kepada pak Ci, dan keinginan yang dalam untuk berdiskusi mengenai Teori Z yang diterapkan pak Ci di perusahaan miliknya.

Teori Z dicetuskan / diciptakan oleh William Ouchi. Teori ini sudah banyak diimplementasikan / dijalankan pada banyak perusahaan di Amerika Serikat dan Jepang. Teori Z adalah lebih menekankan pada peran dan posisi pegawai atau karyawan dalam perusahaan yang dapat membuat para pekerja menjadi nyaman, betah, senang dan merasa menjadi bagian penting dalam perusahaan. Dengan demikian maka karyawan akan bekerja dengan lebih efektif dan efisien dalam melakukan pekerjaannya.

Berikut ini adalah syarat dan ciri dari perusahaan yang menerapkan teori z:

1. Tanggung jawab diberikan secara perorangan atau individual.

2. Karyawan bebas bekerja menggunakan keterampilan yang dimilikinya.

3. Karyawan dipekerjakan seumur hidup dan jika perusahaan mengalami krisis, maka para pegawai tidak akan dipecat atau PHK.

4. Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara konsensus atau secara terbuka. Walaupun akan memakan waktu yang lebih lama namun tingat keberhasilan pengimplementasian hasil keputusan yang didapat akan lebih tinggi karena mendapat dukungan dari mayoritas pekerja.

5. Promosi dilakukan perlahan-lahan dari bawah, dan proses evaluasi prestasi dan promosi dilakukan dengan hari-hati agar tidak menimbulkan masalah dengan para karyawan.

Bagaimana para manajer SDM apakah teori Z ini cocok diimplementasikan di tempat anda?

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Postingan ini saya kembangkan lebih lanjut dari draft yang pernah saya tulis kurang lebih hampir sepuluh tahun yang lalu. Pada saat itu, pertama kalinya saya menjadi manajer dan memimpin jalannya operasional perusahaan, sehingga saya berusaha belajar berbagai teori manajemen, kepemimpinan termasuk salah satunya teori Z. Pada tulisan kali ini, saya akan jelaskan lagi mengenai teori Z dan menurut saya masih relevan hingga saat ini.

Teori Z dikembangkan oleh William Ouchi pada tahun 1981 melalui bukunya yang berjudul “Theory Z-How America Business Can Meet The Japanese Challenge“. Pada saat itu ada fenomena bahwa perkembangan perusahaan-perusahaan di Jepang mampu mengalahkan perusahaan-perusahaan di Amerika. Oleh sebab itu William Ouchi berusaha memaparkan penyebab mengapa perusahaan Jepang mampu mendominasi perusahaan-perusahaan di dunia.

Alasan Mengenai Mengapa William Ouchi Menamakan Teori ini Dengan Teori Z

Sebelumnya sudah berkembang mengenai konsep teori X dan teori Y yang dikembangkan oleh Douglas McGrenggor. Pada teori X, McGrenggor menyampaikan suatu asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya adalah seorang pemalas dan tidak memiliki tanggung jawab, sehingga harus dilakukan pengawasan secara terus menerus. Sedangkan pada teori Y, McGrenggor mengungkapkan bahwa seorang manusia sebagai mahluk pekerja keras yang memiliki tanggung jawab sehingga tinggal memberikan dorongan dan penghargaan. Kedua asumsi tersebut (teori X dan teori Y) menjadi panduan bagi manajer ketika melakukan pengelolaan karyawan. Meski seakan-akan teori Z adalah lanjutan dari kedua teori tersebut karena urutan abjad, namun sebenarnya teori Z sama sekali tidak berkorelasi dengan teori X dan teori Y.

Bermula dari Kebangkitan Jepang Setelah Perang Dunia Kedua

teori z
Gambar oleh rawpixel dari Pixabay

Pada masa itu, Jepang membuktikan bahwa perekonomian negaranya mampu bangkit setelah perang dunia kedua terjadi. Namun kondisi sebaliknya terjadi di Amerika yang justru mengalami penurunan produktifitas bahkan malah tertinggal dengan Eropa. Padahal Amerika pada saat itu justru mengembangkan pendekatan ilmiah terhadap teknologi. Bahkan pemerintah Amerika mengeluarkan biaya yang besar untuk berbagai riset teknologi baru. Namun seperti dua sisi mata uang, fokus kepada riset teknologi ini tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan dalam mengelola manusia. Akibatnya adalah produktifitas yang menurun tajam.

Pengelolaan sumber daya manusia ini tidak bisa hanya ditanggulangi dengan mengeluarkan berbagai kebijakan moneter semata, ataupun investasi pada riset-riset pengembagan teknologi. Menurut William Ouchi, permasalahannya adalah dengan mencari suatu pola ideal tentang bagaimana mengelola manusia sebagai pekerja, serta menumbuhkan rasa kebersamaan meski ada persaingan dari masing-masing pekerja untuk dapat mencapai hasil yang diinginkan.

Teori Z dimunculkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menariknya, teori Z tidak dimunculkan dengan kajian yang penuh rumusan teoritis, namun justru mempergunakan ilustrasi yang gamblang tentang kesuksesan perusahaan-perusahaan Jepang. William Ouchi mengungkapkan bahwa sebetulnya performa kerja para pekerja di Amerika Serikat tidak kalah hebat dengan pekerja di Jepang, tetapi menariknya bahwa peningkatan produktifitas malah tidak muncul dari seorang pekerja keras.

Beberapa Pelajaran dari Perusahaan Jepang

William Ouchi menceritakan sebuah kisah tentang seorang manajer baru yang diangkat oleh sebuah perusahaan. Sebagai manajer baru yang ingin lebih mengenal karyawannya, dia mengundang rapat semua pekerjanya. Dalam rapat tersebut, sang manajer menjelaskan tentang kondisi persaingan usaha dan ada kemungkinan bahwa perusahaan pesaing akan menghancurkan perusahaan ini. Pada rapat tersebut juga disampaikan mengenai sebuah studi yang menunjukkan tentang permintaan konsumen. Dalam rapat itu juga, sang manajer menyampaikan bahwa perusahaan memerlukan target keuntungan tertentu sehingga perusahaan mampu tetap memperkerjakan pekerjanya dan bisa melakukan investasi baru. Para pekerja yang mengikuti rapat tersebut mendengarkan apa yang disampaikan oleh manajer tersebut, padahal sebelumnya mereka tidak pernah mengetahui mengenai hal ini. Selama ini, mereka hanya melakukan setiap perintah atasan dan menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan. Mereka tidak merasa menjadi bagian dari sistem dalam organisasi perusahaan. Akibatnya, para pekerja tidak mempunyai suatu alasan, mengapa mereka harus bekerja lebih keras dan efisien untuk kepentingan perusahaan. Dan saat rapat tersebut, mereka mulai untuk diajak berdiskusi dan para pekerja mulai bisa untuk mengatur efisiensi pekerjaan mereka.

Dari kisah tersebut, ada beberapa catatan pelajaran menurut William Ouchi yang bisa dipelajari dari kesuksesan perusahaan Jepang, antara lain:

Trust
Trust atau rasa saling percaya adalah pelajaran pertama dari teori Z. Produktifitas dan rasa saling percaya akan berjalan beriringan. Sebagai contohnya William Ouchi menunjukkan perjalanan sejarah perekonomian di Inggris yang memperlihatkan rasa saling tidak percaya antara pemerintah, pelaku usaha dan serikat pekerja yang menimbulkan kemerosotan ekonomi. Selain itu William Ouchi menunjukkan keberhasilan perusahaan-perusahaan Jepang yang mampu menerobos pasar baru. Pola yang mereka lakukan adalah dengan melakukan manajemen yang didasari oleh rasa saling percaya.

Subtilitas
Pelajaran lain yang diungkapkan William Ouchi adalah subtilitas yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai komunikasi non verbal dan dapat dilihat melalui perilaku. Misalnya, jika seorang atasan berdiam, maka bawahannya sudah mengetahui apa yang dikehendaki oleh atasannya. Seorang manajer mengenal betul bawahannya akan dapat tahu dengan siapa dia bisa bekerja lebih produktif.

Intim
William Ouchi menunjukkan kenyataan yang ada pada masyarakat Jepang mengenai keintiman. Meski secara tradisi, keintiman masyarakat di Amerika dapat dengan mudah dijumpai di dalam keluarga-keluarga, lingkungan bertetangga, namun kehangatan tersebut dirusak oleh kehidupan organisasi industri di perusahaan-perusahaan.

Kenyamanan dan Rasa Memiliki Pekerja

William Ouchi menyampaikan teori Z dengan lebih menekankan pada peran dan posisi seorang pekerja di sebuah perusahaan. Pekerja harus dipastikan untuk mendapatkan kenyamanan, rasa betah, senang dan ikut menjadi bagian penting perusahaan tesebut. Dengan demikian pekerja tersebut akan melakukan pekerjaannya dengan lebih efektif dan efisien sehingga peningkatan produktifitas dapat dicapai.

William Ouchi juga mengungkapkan tentang jaminan bagi pekerja di perusahaan jepang yang sebagian besar memiliki masa kerja seumur hdup. Selain itu teori Z juga menekankan pada hubungan rasa saling percaya antara pemimpin dan yang dipimpin. Rasa saling percaya ini menjadi poin penting untuk meningkatkan motivasi pekerja, apalagi ada asumsi bahwa motivasi terbaik adalah motivasi yang dimulai dari diri sendiri. Dan apa yang dilakukan ini juga harus diperkuat dengan komitmen yang jelas kepada pekerja dari pihak pemimpin perusahaan. Teori Z menyampaikan bahwa pengambilan keputusan yang bersifat kolektif memberikan dukungan sosial terhadap performa suatu perusahaan. Melalui rasa aman, para pekerja bisa dengan bebas mengungkapkan ide-ide baru tanpa takut ditolak maupun gagal.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa teori Z yang disampaikan oleh William Ouchi ini memberikan tujuh konsep, antara lain:

  1. Life Time Employment
    Pekerja di perusahaan Jepang cenderung untuk bekerja seumur hidup di satu perusahaan saja dan tidak pernah berpikir untuk berpindah perusahaan tanpa ada sebab yang luar biasa. Sebaliknya pekerja Amerika justru merasa malu jika tidak berpindah-pindah ke perusahaan lain dengan kedudukan yang lebih tinggi. Perusahaan di Jepang tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) selama pekerjanya tidak melakukan kriminalitas, anarkis ataupun amoral, sedangkan perusahaan di Amerika sangat lazim untuk melakukan lay-off jika perusahaan tidak beroperasi penuh.
  2. Slow Promotion
    Kecenderungan pekerja di perusahaan Jepang yang bekerja hingga pensiun, menimbulkan proses promosi berjalan secara perlahan. Bahkan dalam sepuluh tahun pertama bekerja, seorang pekerja di Jepang belum mempunyai jabatan apapun. Sebaliknya dengan pekerja di Amerika yang akan segera mencari perusahaan yang dapat memberi gaji dan jabatan yang lebih tinggi jika perusahaan tidak memberikan promosi kepadanya. Bagi pekerja di Amerika, kesetiaan profesi lebih penting daripada kesetiaan pada perusahaan.
  3. Non Specialized Career Path
    Pada perusahaan di Jepang, seorang pekerja tidak akan menempuh satu jalur karir dengan spesialisasi bidang tertentu. Seorang pekerja akan dilakukan job rotation. Karena hal tersebut, jika terjadi masalah pada suatu departemen, maka sesama pekerja bisa saling berdiskusi dan membantu. Berbeda dengan perusahaan di Amerika yang mengutamakan spesialisasi pada karir. Misalnya memulai karir sebagai staff accounting, maka selanjutnya yang akan dikejar adalah jabatan supervisor accounting maupun manajer Finansial.
  4. Collective Decision Making
    Pada perusahaan di Jepang, pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif. Meski terkesan terlalu lama, namun keputusan diambil akan didukung oleh semua pekerja. Sedangkan perusahaan di Amerika, setiap keputusan bisa diambil secara cepat, namun dapat timbul kesulitan pada saat pelaksanaan karena pekerja tidak memahami alasan dibalik keputusan tersebut.
  5. Collective Responsibility
    Pada perusahaan Jepang lebih menekankan tanggung jawab kelompok, sedangkan pada perusahaan Amerika lebih ditekankan pada tanggung jawab pribadi.
  6. Implicit Control Mechanism
    Sistem kontrol yang diterapkan pada perusahaan Jepang lebih bersifat melekat. Sedangkan di perusahaan Amerika disampaikan dalam dokumen yang rinci dan tertulis. Dengan sistem yang melekat akan memberikan peluang untuk setiap pekerja dapat mengontrol dirinya sendiri.
  7. Wholistic Concern
    Manajemen perusahaan Jepang memandang pekerjanya sebagai manusia yang seutuhnya. Sedangkan perusahaan Jepang memandang pekerjanya dengan batasan ikatan formal.
Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.