Logistics

Tiga Trend Teknologi Logistik di Masa Mendatang

Trend Teknologi LogistikSebagai orang yang tergila-gila akan teknologi [Anggap saja saya seperti demikian), Artikel dari situs supplychain247.com sangat menggelitik saya. Dengan arogannya menulis tentang 3 trend teknologi yang akan merubah logistik di masa mendatang. Wah ini sama dengan tantangan secara langsung.
Ya, saya cuma bergurau mengenai hal ini. Artikel tersebut memang valid dengan kondisi dunia logistik secara global dan mungkin lebih tepatnya Amerika menjadi acuan sebagai representatif industri logistik secara global.
Ada tiga hal bagaimana memandang suatu teknologi akan menjadi tren di masa mendatang.
yang pertama adalah adanya kebutuhan yang semakin meningkat terhadap penyelesaian suatu permasalahan.
Yang kedua, ada upaya untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut.
Yang ketiga teknologi yang sedang dikembangkan sebagai bagian dari solusi tersebut terukur dan reliable untuk diwujudkan.
Ada 3 tren teknologi logistik terkini menurut situs supplychain247.com yang akan menjadi enabler bagi industri logistik
Teknologi pertama adalah “Uber-isasi” transportasi truk. Sudah tahu kan trend Uber, Grab. Hal ini yang coba diaplikasikan untuk industri logistik. Pemainnya sebetulnya sudah ada yang memulai untuk menciptakan tools yang akan membantu untuk mendapatkan truk. Ide ini dimulai dari kebutuhan akan transportasi truk dan keinginan untuk mendapatkan transparansi harga.
Teknologi kedua yang akan menjadi tren di masa mendatang adalah robotisasi di warehouse. Kebutuhan akan tenaga manusia semakin meningkat, hal ini terutama pada ecommerce yang menuntut proses picking dengan volume yang sangat besar. Contohnya di Amazon yang merekrut hingga 8000 orang pada masa Natal di salah satu pusat distribusinya. Dengan teknologi otomasi picking, tentu menjadi sangat berguna. Meski demikian masih ada kegiatan dari proses fulfillment yang kalah dengan manusia, misalnya packing. Masih diakui kecepatan dan kerapian packing manusia masih lebih unggul daripada robot.
Teknologi ketiga adalah teknologi Augmented Reality dan Wearebles. Seiring dengan dengan semakin tren penggunaan  dan implementasi konsep Augmented Reality di banyak aplikasi dipercaya juga akan berguna di dunia logistik. Konsep Augmented reality memberikan tambahan sesuatu di dunia nyata. Wearebles yang juga semakin berkembang seperti google glass, atau smart watch bisa juga dimanfaatkan sebagai pengganti tools yang selama ini digunakan di warehouse, misal barcode scanner ataupun RF Gun Scanner.

Bagaimana Teknologi ini dapat berkembang di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara yang dengan mudah melakukan adaptasi terhadap teknologi. Bahkan dengan mudah bisa mengembangkan teknologi. Tren menggunakan kendaraan dari jasa aplikasi penyedia kendaraan juga bisa dengan mudah terimplementasikan. Misalnya Gojek yang mampu memobilisasi ojek dan mempertemukan dengan pemakai jasa. Demikian juga untuk kebutuhan truk. Sudah ada beberapa yang mencoba menyediakan jasa sebagai technology enabler untuk kebutuhan truk di Indonesia. Sebut saja carimuatan.com, kargo.id, gobox, deliveree, ninjavan, caritruk dan masih banyak lagi yang menyediakan jasa serupa. Layananannya ditekankan pada kemudahan bagi konsumen untuk mendapatkan truk dengan harga yang transparan. Meski demikian masih ada beberapa hambatan bagi penyedia jasa aplikasi ini. Misalnya penerapan harga yang ternyata tidak sesuai dengan harga pasar, masih ada gap antara resource yang diharapkan dalam hal ini truk dengan pengelola. Tetapi hambatan-hambatan tersebut harus bisa dijembatani dengan melakukan apa yang disebut dengan “Bridging the future”. Harus ada teknologi perantara sebelum teknologi masa depan tersebut di implementasikan.
Teknologi otomasi robot, juga menghadapi kendala di Indonesia. Isunya sekali lagi masalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak. Apalagi pelaku ecommerce yang banyak mengimplementasikan ini membandingkan antara harga suatu peralatan otomasi dengan upah buruh. Selama upah buruh masih dianggap murah, maka manusia masih dianggap pilihan yang ideal. Meski demikian, bukan tidak mungkin menerapkan teknologi otomasi robot di Indonesia, mungkin ada beberapa bagian bisa dilakukan oleh robot agar kecepatan proses fulfillment tidak terhambat. Apalagi Indonesia diprediksi menjadi pasar ecommerce terbesar di Indonesia, tentu Indonesia harus mempunyai perencanaan untuk menghadapi gelombang ini.
Teknologi Augmented Reality sudah saya kenal sejak 2 tahun yang lalu, tapi di Indonesia secara masif orang mengenalnya dari sebuah game. ya benar melalui game Pokemon. Melalui game tersebut, masyarakat Indonesia bisa mengetahui bagaimana konsep Augmented Reality diimplementasikan. Dengan kesuksesan game tersebut, maka mendorong semakin banyak pengembang untuk membuat aplikasi dengan konsep Augmented Reality. Juga demikian dengan pengembang aplikasi yang berkaitan dengan industri logistik, seperti misalnya untuk Warehouse Management System (WMS). Meski masih sumir, saya yakin Augmented reality akan dengan mudah diterapkan di Indonesia. Sementara untuk Wearebles juga masih belum terlalu masif. Hal ini disebabkan peralatan yang masih sangat jarang dan lebih ke sisi ekonomis, karena wearebles masih dianggap terlalu mahal.
Sekali lagi, itu pandangan hingga detik ini di bulan agustus 2016. Perubahan bisa saja terjadi, bahkan penerapannya juga bisa tiba-tiba berjalan dengan cepat. Yang terpenting adalah bagi industri khususnya logistik harus bisa dengan siap untuk menerapkan apapun teknologi yang saat itu dibutuhkan.
Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.