about life

Underestimate untuk sang angsa hitam

Kakak saya di pedalaman kalimantan sempat mengasuh seorang anak dari dia smp, dan saat ini sudah lulus SMU. Cita-citanya sedemikian tinggi, mengalahkan lebatnya hutan kalimantan dan lebarnya laut Jawa, pergilah dia ke tanah jawa untuk mencari pendidikan tinggi.

Pada saat itu, tujuannya adalah sekolah di Jember, yang notabene adalah kota tempat tinggal orang tua saya. Dia ingin masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri dan mengambil jurusan Hukum.
pada saat test seleksi smptn, dia sempat gagal, dan akhirnya mencoba jalur ujian lokal, yang dia ambil jurusan Hukum dan Kesejahteraan Sosial.
salah satu usaha agar dia bisa masuk dan memperoleh beasiswa adalah dengan cara meminta rekomendasi dari kepala sekolahnya.

Surat rekomendasi itupun dikirimkan melalui saya di Tangerang, dan isinya luar biasa, “Peringkat 7 dari 12 peserta UNAS”. wow…..

Bagi saya, dan istri saya yang sempat membacanya sebetulnya hal yang sangat menggelikan. Bayangkan, apa yang bisa dibanggakan dari surat rekomendasi itu.

Pada saat saya pulang ke Jember, saya menyarankan jika gagal, sekolah saja ke Politeknik Pertanian, karena peluang kerja yang banyak. Anak itupun sebenarnya sempat pasrah dengan keadaan ini. Bayangkan, seorang anak di pedalaman Kalimantan, yang mengangkat telepon saja masih bingung caranya  bagaimana (this a true story) dengan pendidikan yang ala kadarnya di sana.
Saya percaya sebenarnya anak ini pintar, hanya saja tidak mendapat kesempatan.
(Jadi teringat kisah kawan saya yang dibawa neneknya dari desa, karena sang nenek  melihat potensi sang cucu, dan benar sang cucu akhirnya menjadi always the best student)

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke Tangerang dan mama saya mengabarkan, kalau anak ini diterima di universitas tersebut, hanya saja pada pilihan keduanya yaitu kesejahteraan sosial. Mama saya sempat bertanya, apa karir di bidang itu, berhubung mirip dengan bidang yang saya ambil dulu, ya saya jawab aja meneliti atau jadi petugas penyuluh BKKBN 🙂

Ternyata malam harinya saya dikabari lagi, bahwa anak itu sebetulnya masuk di pilihan pertamanya, di Fakultas Hukum. wowww…
Jadi teringat film Laskar Pelangi.
Mama saya bertanya, apakah anak ini mampu, saya jawab tentu saja pasti mampu, la wong semua yang masuk hukum gak ada satupun yang SMA nya ambil jurusan hukum 🙂

sooo, tetaplah bermimpi dan jangan menganggap remeh mimpi seseorang

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

One thought on “Underestimate untuk sang angsa hitam”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.