about life

Bangga dengan Budaya Organisasi

Beberapa tahun yang lalu, pada saat saya masih berkuliah di Sosiologi Unair, ada satu mata kuliah yang cukup menarik perhatian saya, yaitu mata kuliah Sosiologi Organisasi. di dalam mata kuliah tersebut diajarkan bagaimana sebuah organisasi berkembang dan menciptakan budayanya.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan budaya organisasi itu berjalan, antara lain, budaya tersebut didorong atau dipaksakan melalui aturan kerja yang mengikat dengan reward dan punishment yang jelas tertulis. Agak sedikit mudah untuk diterapkan, cukup dengan tanda tangan diatas kontrak untuk mematuhi segala aturan yang ada.
Di sisi lain ada budaya organisasi yang tidak tertulis, misal nilai-nilai yang yang ditularkan dan diajarkan bertahun-tahun di terapkan. Pengetahuan tentang budaya organisasi seperti ini memerlukan suatu supervisi dan pemahaman yang mendalam mengenai hal-hal yang tidak tertulis.

Tentu saja budaya organisasi selalu berada dalam tataran pemikiran mengenai tindakan-tindakan positif yang diharapkan dapat mengembangkan organisasi. tentu positif ini menjadi kata subyektif bagi masing-masing organisasi.

Demi budaya organisasi itu terpatri dalam setiap individu di dalamnya, maka dibuatlah suatu simbol-simbol yang mencerminkan budaya organisasi tersebut, misalnya saja warna yang diterapkan, simbol, seragam dan masih banyak lagi. Harapannya, simbol tersebut selain menjadi kebanggaan juga menjadi identitas bagi organisasi tersebut.

Perusahaan juga adalah salah satu bentuk organisasi yang modern, karena sudah terstruktur pola organisasinya. Sebagai organisasi, perusahaan juga memerlukan budaya organisasi. Salah satu contoh misalnya logo perusahaan yang tentu tidak dibuat asal-asalan. Biasanya ada nilai filosofi di sana. Ada beberapa perusahaan juga menggunakan seragam sebagai identitas organisasi.Penggunaan kartu identitas yang harus dipakai pada setap hari kerja. Selain itu budaya organisasi sangat kental ditulis dan dibakukan dalam peraturan tenaga kerja yang harus dipatuhi oleh setiap karyawannya yang menjadi bagian dari organisasi.

Simbol-simbol tersebut menjadi identitas dan kebanggaan terhadap organisasi. Ketika lunturnya pemahaman terhadap simbol-simbol tersebut, maka menurut saya ada degregasi pemahaman dan kebanggaan terhadap organisasi yang menaungnya. Tidak heran, setelah simbol-simbol itu diabaikan, maka selanjutnya adalah peraturan tenaga kerja yang ada, yang seharusnya meng-hegemoni karyawan malah dipertanyakan dan akhirnya berkembang menjadi sikap apatis terhadap aturan tersebut.

Proses selanjutnya, ketika aturan tenaga kerja tersebut sudah mulai ditinggalkan, yang terjadi adalah muncul aturan-aturan tidak tertulis dari yang berkuasa untuk meredam gejolak dari karyawan yang sudah tidak tertarik dengan peraturan tertulis. Aturan absolut yang tidak tertulis ini justru akan menjadi blunder, karena organisasi akan menjadi semakin tidak terkontrol, aturan menjadi sulit diterapkan dan dipahami oleh karyawan dan pada akhirnya organisasi tersebut bergeser menjadi kerumunan orang yang berada di suatu tempat.

Kemunduran ini harus segera dihentikan sebelum organisasi mencapai titik menjadi kerumunan. Caranya adalah penegakan peraturan yang tertulis. ya, betul harus tertulis agar tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda antar setiap karyawan. Siapa yang tidak memenuhi peraturan tersebut harus diberikan sanksi tegas. Jika ada aturan-aturan baru yang akan diterapkan, segera buat suatu surat keputusan tertulis dan segera disosialisasikan kepada karyawan.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan