Sharing

Budaya Membaca Buku

Saya sebetulnya suka membaca, cuma terkadang sering kehabisan waktu untuk meluangkan sejenak membaca buku. Saya tidak membatasi buku yang saya baca. Hanya saja karena sekarang saya memberikan fokus untuk membaca buku-buku logistik.
Ya, saya membaca baik buku fisik maupun buku elektronik, meski sebetulnya suka dengan buku elektronik yang sangat praktis, tetapi kadang ada beberapa kendala yang saya hadapi ketika memilih buku elektronik.
Misalnya harga yang mahal ataupun ketiadaan edisi elektronik.

Katanya saat ini budaya membaca buku sangatlah rendah. Tapi itu sih gak hanya saat ini saja. Dari dulu juga begitu. Beruntung saya punya orang tua yang mendukung anaknya untuk membeli buku, yah mungkin hampir setiap bulan saya punya buku, termasuk majalah juga ya. Pada saat kuliah malah saya lebih menggila, setiap bulan membeli dua buku, dan entah kapan membacanya, hehehe.

Sekarang setiap masuk ke toko buku, sering jadi galau. Karena selalu teringat buku-buku yang belum dibaca. Tapi sekali lagi, setelah saya pikirkan, lebih baik buku itu dibeli terlebih dahulu, karena bisa kapan saja dibaca. Dan tentunya sesuai budget yang kita punya. Ada beberapa buku yang sangat saya inginkan. Sayang harganya mencapai 1,5 juta untuk buku fisiknya, sedangkan buku elektroniknya gak beda jauh harganya. Isinya sangat bermanfaat sekali. Hanya sayang, ya itu, harganya gak cocok, hehehe.

Karena saya sedang menggeluti dunia logistik, maka referensi saya banyak mencari untuk studi logistik. Sayang memang, di Indonesia sangat sedikit buku-buku tentang logistik. Kebanyakan berkutat pada dunia logistik secara praktis. Padahal secara keilmuan, kita bisa melakukan optimalisasi di setiap aktifitas logistik.

Selain logistik, saya juga banyak mempelajari tentang dunia IT, ke dunia programming tepatnya. Namun mungkin saya tidak tepat jika dibilang programmer, karena memang bukan saya tidak berkutat pada dunia coding. Bagi saya coding hanyalah sebuah media. Oleh sebab itu saya tidak berkutat di satu bahasa pemrograman saja. Sering saya memperlajari bahasa pemrograman dengan metode mempelajari dokumentasinya, tentu saja menurut saya dokumentasi itu buku juga kan?

Saya sendiri tidak mempunyai target tertentu untuk membaca buku. Kadang ada buku yang berbulan-bulan tidak selesai dibaca. Kadang juga ada buku-buku yang sulit saya pahami, tetapi saya teruskan membacanya. Ini terutama yang mengandung rumus-rumus. Entah mengapa otak saya gak sanggup untuk menghapal rumus-rumus tersebut. Biasanya sih jika ada rumus, saya akan capture dan nantinya saya jadikan PR untuk nanti dijadikan modul program saja, siapa tahu bisa dikompilasi dan jadi tools yang berguna.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.