Menengok Pendidikan Sekolah Dasar Kekinian
Sharing

Menengok Pendidikan Sekolah Dasar Kekinian

Di tahun 2017 ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa menyekolahkan anak di jenjang sekolah dasar. Harapan saya pada saat itu adalah anak saya bisa bersekolah di sebuah sekolah dasar yang berada satu lokasi dengan perumahan kami. Namun ternyata tidak semudah itu. Anak saya memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi dan ternyata sekolah tersebut tidak bisa menerima anak seperti anak saya ini. Tentu saja saya tidak bisa menyalahkan sekolah tersebut tidak menerima anak saya. Banyak pertimbangan bagi sekolah mengapa tidak menerima seperti anak saya ini.

Saya juga sempat berdiskusi dengan seorang ibu menyekolahkan anaknya yang autis di sebuah sekolah dasar negeri di dekat rumah, Hanya memang perjuangannya cukup sulit, bahkan si ibu harus menemani setiap hari anakknya yang bersekolah sekaligus menjadi shadow teacher bagi anaknya karena kita tahu bersama bahwa sekolah dasar negeri tidak banyak yang memiliki kemampuan untuk membimbing anak-anak berkebutuhan khusus apalagi setiap anak bisa saja memilki kekhususan yang berbeda-beda. Solusinya biasanya adalah dengan menerapkan kelas inklusi, meskipun pada prakteknya penerapan inklusi ini bisa berbeda-beda. Ada yang memisahkan anak pada waktu tertentu dan mencampurkan anaknya pada waktu tertentu juga, ada juga yang menjadikan satu dengan anak lainnya. Nah untuk ibu tersebut kebetulan sekolah dasar negeri tempat anaknya bersekolah ada di tipe kedua yaitu mencampurkan dengan anak yang lain. Namun karena keterbatasan guru pengajar, maka harus ada shadow teacher yang membimbing anak tersebut dan ibunyalah yang menjadi shadow teachernya.

Kebutuhan khusus pendidikan anak ini menjadi semakin kompleks akhir-akhir ini. Dan sebagai orang tua yang mempunyai tanggung jawab memberikan pendidikan kepada anaknya akan tetapi mempunyai keterbatasan baik waktu maupun kemampuan mendidik anak maka biasanya akan menyerahkan pendidikan anak kepada lembaga pendidikan sekolah, dan itu termasuk saya, orang tua dari Michael.
Saya sebetulnya tidak perlu mengkhawatirkan kemampuan akademis Michael, karena saat ini Michael sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, bahkan mungkin masih banyak dari kawannya yang belum bisa. Ditambah lagi kemampuannya untuk menghafal sekaligus mengingat setiap detail bisa menjadi andalan untuk kemampuan dasarnya.
Tentu hal ini sangat mengherankan di tengah kemampuan konsentrasinya yang sangat payah. Sangat sulit untuk berkonsentrasi.

Mencari Sekolah Dasar yang Cocok

Dari perkembangan inilah akhirnya saya harus mencari sekolah yang cocok untuk Michael, ditambah lagi penolakan secara halus dari sekolah yang ada di perumahan saya membuat saya semakin selektif untuk mencari sekolah. Beberapa pertimbangannya tentu saja adalah yang bisa menerima kondisi Michael, selanjutnya baru melihat letak sekolah, model pendidikan yang ditawarkan dan biaya yang dibutuhkan.
Setelah proses mencari akhirnya kami mendapatkan sekolah di daerah kota Sidoarjo yaitu SD Mutiara Bunda. Sekolah yang terletak di perumahan Pondok Mutiara Sidoarjo ini juga disarankan dari TK Kiddy Land. Selain itu sekolah ini juga sudah mencapai jenjang SMA dan ada juga di dua lokasi lainnya di Surabaya.
Dari searching di internet, saya mendapatkan informasi meski sangat sedikit tapi cukup posiitif.
Akhirnya Michael didaftarkan di SD Mutiara Bunda.

di SD Mutiara Bunda

Pada bulan-bulan pertama, Michael ditempatkan di kelas reguler, mungkin karena pertimbangan dari kemampuan akademis Michael. Tetapi di kelas reguler, Michael sering meninggalkan kelas, bahkan sering bermain sampai naik ke lantai empat pada saat jam pelajaran. yah memang itulah tipikal Michael sang penjelajah.

Menengok Pendidikan Sekolah Dasar Kekinian
Michael dan teman-teman di kelas khusus (pic taken by ibu Linda Irene)

Namun sudah sebulan ini Michael ditempatkan di kelas khusus. Saya merasa di kelas khusus ini Michael bisa mendapatkan porsi yang pas jika dibandingkan dengan ditempatkan di kelas reguler. di kelas khusus ini Michael belajar dengan anak yang lain, kebetulan Michael menjadi satu-satunya anak kelas satu. Jadi di kelasi khusus ini satu kelas bisa diisi dengan anak yang berbeda-beda tingkatannya.
Menurut saya lucu juga kelas seperti ini. Jadi teringat buku Toto Chan.
di SD Mutiara Bunda juga memiliki model pendidikan yang menurut saya berbeda. Anak diajak untuk mencintai kehidupan sekolahnya. Tapi Michael memang gak pernah susah sih kalau diajak pergi ke sekolah.
Saat ini Michael sudah menerima rapot untuk semester pertama, nilainya bagus meski ragu sih kok bisa sebagus itu, hahaha.

Bagaimana seharusnya pendidikan di sekolah dasar

Kembali lagi kepada kita sebagai orang tuanya. Lembaga pendidikan sekolah sifatnya hanya membantu kita sebagai orang tua. Diperlukan kerjasama antara sekolah dan orang tua. Sebaiknya jangan sering merecoki sekolah dengan apapun yang menurut pandangan kita salah, karena saya yakin lembaga sekolah sudah mempunyai kompetensi dalam mendidik anak. Oleh sebab itu sebagai orang tua kita harus mempertimbangkan tentunya mengenai pendidikan anak. Jangan sampai anak menjadi gamang dan malas dengan pendidikan yang diterima karena tidak nyaman berada di sekolah.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan