Sharing

Mengapa Banyak Sarjana Menganggur

banyak sarjana menganggur
ilustrasi dari http://berita-sulsel.com/wp-content/uploads/2016/06/ilustrasi-sarjana-nganggur.jpg

Data BPS di tahun 2016 mengatakan ada 600 ribu sarjana menganggur. Data ini memang tidak mendeskripsikan secara detail mengenai profil sarjana yang dimaksud, misalnya apakah sarjana S1, S2 atau S3? Begitupulah data-data lain seperti usia dari sarjana yang menganggur ataupun di daerah mana banyak menganggur.

Saya akan terlepas dari data-data detail dari profil sarjana yang menganggur ini. Angka 600 ribu adalah sangat fantastis, di mana kita masih dipandang sebagai negara yang kekurangan tenaga-tenaga ahli. Dalam bayangan saya, kuliah selama 4 tahun itu akan mendapati banyak ilmu yang bermanfaat. Sayangnya itu dalam bayangan saja. Pada kenyataannya saya saja yang lulus lebih dari lima tahun bahkan tidak siap apapun untuk bekerja. Yang saya bawa pada saat melamar bekerja adalah ijasah, IPK seadanya dan modal ngobrol ngalor-ngidul selama interview. Tapi apakah ada sedikitpun dari saya yang membawa kompetensi yang saya dari kuliah? sayangnya tidak.

Tetapi secara kebetulan saya kuliah di dua tempat dengan dua jurusan yang berbeda. di tempat lain saya kuliah di Sosiologi dan di tempat lain saya kuliah di jurusan Manajemen Informatika. Secara kompetensi saya lebih menguasai di Manajemen Informatika dengan kualifikasi koding dan koding. Akhirnya sayapun bisa mendapatkan pekerjaan di kualifikasi sebagai programmer.

Tapi apa benar waktu kuliah di manajemen informatika saya mendapatkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar? tidak juga ternyata. Karena apa yang diajarkan di dunia kuliah itu hanya ilmu secelup-celup saja. Pokoknya tahu. Mungkin karena dikejar oleh jam perkuliahan yang terbatas, plus harus membagi rata dengan kemampuan mahasiswa lainnya. Banyak sekali bahkan teman saya yang tidak bisa lulus ataupun saat ini malah tidak menjalani pekerjaan di dunia IT.

Bukan salah kampusnya yang tidak mempersiapkan sesuai kompetensi pasar, lah pasarnya aja punya kebutuhan yang sangat beragam. Menurut saya yang terlalu muluk itu adalah para sarjana yang berharap dengan bekal ijasah saja bisa bekerja, padahal sangat susah banget. Untuk fresh graduate, pasti diberikan entry level dan diberikan training lagi agar mereka bisa bekerja.
Tapi……
Kecuali, kamu mau bekerja sesuai dengan apa yang kamu kuliahi. Saya mencontohkan ijasah saya di Sosiologi. Saya sendiri tidak mendalami tentang sosiologi, hanya sepintas-pintas saja. Padahal jika digali lebih dalam lagi, Sosiologi ini punya cakupan yang sangat luas. Bahkan bisa dijadikan sebuah profesi. Dengan kemampuan kamu sebagai sosiolog, kamu bisa membuka sebuah biro penelitian yang bisa dipakai oleh individu atau perusahaan untuk melakukan suatu penelitian. Bayangkan, profesi sebagai sosiologi itu bisa setara dengan dokter. Kamu bisa punya client sama persis seperti dokter. Menarik bukan.

So, rasanya angka statistik ini membuat kita sadar, terutama buat kamu yang masih kuliah untuk segera memilih jalan karir yang akan dipilih. Tapi bagaimana kalau kamu masuk kepada orang-orang yang berada di dalam angka statistik tersebut? Solusinya ada mengikuti pelatihan-pelatihan yang bisa meningkatkan kompetensimu
Atau….
Kamu bisa mengajukan diri sebagai pekerja magang di perusahaan-perusahaan. Meski memang gajinya kecil bahkan tidak ada gajinya, tapi bisa menambah pengalaman kerja.

Artha Nugraha Jonar
blogger yang belajar dengan menulis
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.