Sharing

Manusia Versus Mesin, Benarkah Menjadi Akhir Dari Artificial Intelegence?

Manusia Versus Mesin
ilustrasi diambil dari pixabay.com

Menarik untuk mencermati perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelegence. Ada beberapa yang melihat dari sisi bahwa inilah peperangan manusia versus mesin.

Masih ingatkah dengan Deep Blue, sebuah program permainan komputer besutan IBM yang ditanami oleh kecerdasan buatan. Debut Deep Blue adalah saat menantang juara dunia catur Garry Kasparov yang menghasilkan kemenangan Deep Blue di pertandingan pertamanya dan selanjutnya Kasparov berhasil mengalahkan Deep Blue.

Cerita tentang tantangan sebuah aplikasi yang bernama Deep Blue ini seakan membenarkan cerita-cerita film Holywood yang mengisahkan pertarungan antara robot dan manusia, di mana perkembangan kecerdasan robot yang meningkat membuatnya mampu berpikir dan bertingkah laku seperti manusia dan endingnya pada pertempuran yang fenomenal. Tentu kita bisa menikmati kisahnya di film seperti “Terminator” yang punya banyak sekuel itu. Atau kita bisa melihat film “I Robot” yang dibintangi oleh Will Smith.

Namun sebenarnya, impian dibalik kecerdasan buatan adalah bukan untuk menciptakan perang manusia versus mesin.

Seperti halnya penemuan dan perkembangan teknologi lainnya, kecerdasan buatan dibuat dan dikembangkan untuk membantu manusia dalam menghadapi kehidupannya. Dengan impian inilah maka kecerdasan buatan berusaha dikembangkan semasif mungkin. Bayangkan saja ketika kita memerlukan pengambilan keputusan, kita dapat dengan mudah diberikan bantuan.

Pernah gak sih kita merasa dalam keseharian kita bingung akan makan apa? atau pernahkah kita merasa bahwa bagian tubuh kita tiba-tiba merasa sakit, tapi kita bingung sakit apakah ini dan ujungnya juga bingung obat apa yang harus dikonsumsi. Dan dengan kecerdasan buatan akan sangat membantu menyelesaikan hal tersebut.

Saya mengambil contoh mengenai diagnosa dari suatu penyakit. Tentu kita sering mendengar seseorang yang mendapatkan kesulitan karena penyakit yang diderita tidak mendapatkan diagnosa. Bahkan harus dirujuk dari dokter spesialis yang satu dengan yang lain. Entah berapa waktu dan biaya yang harus dihabiskan. Dan yang paling fatal adalah beberapa kejadian salah diagnosa karena kurangnya referensi dari dokter. Banyak kejadian seperti seperti diatas. Misalnya kisah kawan saya yang meninggal, sebelumnya tiba-tiba mengalami bengkak jantung. Setelah diobservasi oleh dokter spesialis jantung, ternyata jantungnya tidak mengalami gangguan apa-apa. Dan setelah beberapa lama diobservasi baru didapatkan bahwa ginjalnya sudah akut dan akhirnya tidak terselamatkan lagi. Begitu pula kejadian dari sepupu saya yang didiagnosa gagal jantung, ternyata yang dialami adalah TBC.

Dari kisah yang diceritakan di atas akan sangat terbantu jika saja ada bantuan dari kecerdasan buatan. Caranya adalah kecerdasan buatan akan mengumpulkan berbagai data diagnosa dari berbagai dokter ahli, kemudian dikompilasikan berdasarkan berbagai indikasi atau gejala yang timbul dari pasien. Dari data berbagai penelitian didapatkan bahwa semakin kecerdasan dipakai, maka akurasi untuk mengambil keputusan semakin tinggi. Dengan adanya kecerdasan buatan, diagnosa penyakit menjadi tambah cepat.

Lalu apakah dengan adanya kecerdasan buatan akan meminggirkan profesi dokter ahli? tentu tidak. Malah dokter ahli bisa lebih memiliki waktu untuk berkonsentrasi mengembangkan keilmuannya melalui riset. Dan hasil riset yang didapatkan sekali lagi juga dimasukkan ke dalam kecerdasan buatan.

Tentu kecerdasan buatan tidak hanya bisa menyelesaikan masalah kesehatan manusia. Tetapi berbagai bidang kehidupan lain. Dengan kecerdasan buatan, manusia semakin terbantukan sehingga kualitas hidup manusia menjadi semakin tinggi.

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
https://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.