Pendidikan Instan Demi Sebuah Nilai
Sharing

Pendidikan Instan Demi Sebuah Nilai

Pendidikan Instan Demi Sebuah Nilai
Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

Saya adalah seorang remaja berusia 15 tahun. Saat ini sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, sebuah sekolah negeri di kota kecil. Saat itu saya termasuk beruntung bisa masuk di sekolah yang tergolong favorit ini. Pada saat menempuh Sekolah Menengah Pertama, saya bukanlah seorang siswa yang brilian, hanya pas-pasan saja nilainya, karena pada saat itu saya menjalani pendidikan di sekolah hanya sebagai formalitas dan rutinitas belaka.

Itulah saya, mungkin juga si Amin, Budi, Rina atau yang lain berpikiran yang sama dengan saya. Kehidupan di pada saat bersekolah di SMP dengan celana biru tua pendek hanyalah bermain belaka. Dan tibalah masanya di mana saya harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Orang tua saya tidak terlalu menuntut saya harus bersekolah di mana. Tetapi dorongan gengsi lebih kuat daripada pilihan yang logis. Akhirnya saya berusaha untuk menghapal semua jawaban dari ujian. Yah benar-benar menghapal, karena saya hanya belajar dari buku rangkuman ujian nasional dari beberapa tahun. Itu saya lakukan tiga bulan sebelum ujian, yah tentu saja masih diselingi dengan bermain.

Tanpa bermaksud masuk ke hiruk pikuk pemilihan kabinet menteri kemarin, mungkin tulisan ” pendidikan instan demi sebuah nilai ” ini bisa berelasi mungkin juga tidak.

Sudah lama banyak dari kita yang resah ketika sebuah pendidikan hanya dinilai dari nilai ujian akhir pada ujian nasional. Seakan-akan inilah akhir dari segalanya. Mungkin sekarang sudah berubah, kita bisa melihat bahwa banyak perguruan tinggi yang memberikan kesempatan kepada calon mahasiswa masuk dengan berbagai jalur. Begitupun jenjang pendidikan yang melakukan proses seleksi mulai dari SMP hingga SMA juga memberikan kesempatan untuk jalur yang lain.

Paradigma Sebuah Nilai

Namun tak dipungkiri, malah justru dari orang tua yang bangga akan nilai yang terpampang di kertas ujian ataupun di halaman rapot anaknya. Bahkan beberapa memajangnya di media sosial mereka. Menurut saya mereka ini orang tua yang jadul banget. Kenapa saya bilang jadul banget, karena orang tua saya saja dulu gak peduli anaknya mendapat nilai berapa dan itu menurun ke saya juga. Entah karena kebetulan atau tidak, saya dan kakak saya cukup lumayan dalam mengarungi proses pendidikan. Kami bisa masuk ke sekolah terbaik hingga lulus, tanpa harus dipaksa untuk mencapai nilai tertentu. Akhirnya dengan kesantaian, kami bisa melaluinya. Bisa jadi orang tua jaman now yang masih membanggakan nilai di kertas ulangan dan raport anak mereka adalah hasil didikan yang sama dari orang tuanya, yang menuntut nilai terbaik.

Padahal sorry to say ya, saya malah anggap kalau sekarang itu sekolah gampang banget memberikan nilai. Saya akan selalu merengut jika anak saya membawa kertas ulangan dengan hasil di atas delapan puluh. Saya tahu kemampuan anak saya, dan tidak akan mungkin mendapat nilai tersebut. Dan gurunya pun mengakui membantunya pada saat ulangan. Okelah. Pernah suatu saat anak saya membawa hasil ulangannya dengan nilai tiga puluh, empat puluh. Langsung saya bangga banget, nah ini hasil aslinya. Saya rasa gak perlu memoles nilai anak saya, karena memang kita harus tahu betul di mana posisi anak kita. Jika kurang kita bisa menguatkan di tempat yang lemah. Namun gara-gara apresiasi nilai ulangan anak saya yang saya posting di media sosial, besoknya saya dipanggil pemilik sekolah, hahaha.

Jadi sekarang, kalau anak saya pulang membawa nilai bagus, selalu tanya ke gurunya, apakah ini dibantu atau tidak.

Kembali lagi ke poin pendidikan, sekali lagi ini masalah pendidikan. Kita tidak bisa berkutat hanya masalah matematika, IPA, IPS dan mata pelajaran lainnya. Masih banyak hal lain yang harus dipelajari sang anak. Oleh sebab itu, saya lebih memilih untuk mengajak anak saya berkeliling ke berbagai tempat untuk dia belajar. Awalnya dulu gak nyantol satupun, namun seiring perkembangan usia, dia dapat menunjukkan ketertarikannya kepada sesuatu yang pernah dia kunjungi, misalnya saya pernah ajak anak saya ke Sea World Ancol, dan hingga saat ini dia suka melihat ikan-ikan besar di National Geographic Wild Channel. Bahkan di sekolah, dia sering berbincang dengan gurunya masalah ikan, menarik bukan.

Bagaimana Menilai Proses

Sekali lagi ini bagian yang tersulit. Jika menjadi tidak percaya seratus persen dengan nilai ujian, lalu apakah yang akan menjadi panduan bahwa seorang siswa itu sudah siap. Beberapa mengatakan bahwa proses lebih penting daripada sebuah hasil. Namun bagaimana memberikan penilaian sebuah proses. Pendapat lain mengatakan bahwa hasil yang diperoleh adalah bagian dari proses. Betul sekali, idealnya begitu. Namun sayangnya proses itu bisa bypass begitu saja. Contohnya seperti yang terjadi kepada anak saya yang mendapat nilai bagus yang ternyata karena dibantu oleh gurunya. Contoh lainnya adalah maraknya kasus jual beli bocoran soal menjelang ujian nasional.

Ada pendapat bahwa ini karena ada yang mencoba memanfaatkan situasi saja. Namun menurut saya hal ini terjadi karena ada permintaan tentunya. Contoh lainnya adalah maraknya bimbingan belajar yang menawarkan program intensif. Dalam beberapa bulan saja  sudah siap untuk menghadapi ujian nasional. Biasanya bimbingan belajar melakukan mapping pada soal ujian, dan mereka memprediksi model soal apa saja yang akan keluar dan mengajarkan kepada siswa belajarnya. Selain itu mereka juga mengajarkan cara cepat dalam mengerjakan sebuah soal, ini terutama soal-soal yang berkaitan dengan rumus. Adanya bimbingan belajar tadi merupakan sebuah fenomena yang menurut saya miris. Karena terbukti bahwa ternyata sekolah hanya mampu mengantarkan pendidikan siswanya melalui nilai rapot saja, tetapi untuk menghadapi ujian nasional, siswanya harus mengikuti bimbingan belajar. Itulah yang menurut saya menjadi dilema bagi pendidikan masa kini.

Jangan Berharap Pada Nadiem Sebagai Mendikbud Baru

Sepertinya ini yang perlu saya garis tebal lagi. Jangan pernah berharap bahwa Nadiem Makarim mampu merubah paradigma Pendidikan Instan Demi Sebuah Nilai ini. Yang pertama karena tidak ada namanya visi seorang menteri, yang artinya Nadiem ini hanyalah seorang petugas dari Mendikbud, kita tidak dalam rangka membeli visi seorang Nadiem, tetapi membayar seorang profesional untuk mengatasi carut marut pendidikan kita. Setidaknya, Nadiem mampu memberikan mapping yang tepat mengenai berbagai permasalahan yang ada. Jika bisa, bahkan memberikan road map strategi pendidikan kita. Mulai dari mana menyelesaikan masalahnya, kemudian memberikan dorongan kepada dewan untuk mengeluarkan kebijakan yang mendukung road map tersebut. Di luar itu, Nadiem hanya seorang tukang bersih sebuah organisasi yang bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, karena ranah kebijakan tetap ada di tangan presiden dengan persetujuan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Lalu seberapa besar terjadinya transformasi besar di pendidikan nasional kita?

Saya percaya, gelombang besar itu akan terjadi. Apalagi visi Indonesia untuk menjadi negara yang kuat di mata dunia sudah jelas. Maka inilah saatnya untuk mempersiapkan diri. Tidak perlu menunggu dari pemerintah. Mulai dari mindset dari kita, baik dalam posisi sebagai siswa, maupun sebagai orang tua siswa. Persiapkan mulai dari sekarang. dan mulai dari hapuskan mindset kita tentang sebuah pendidikan instan demi sebuah nilai.

Artha Nugraha Jonar
Saat ini bekerja di perusahaan logistik. Sedang belajar bahasa pemrograman komputer. Hobi jalan-jalan, makan dan bersepeda.
http://www.arthanugraha.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.